ENURESIS PADA ANAK

Enuresis atau dikenal dengan istilah “ngompol” merupakan suatu istilah dari kondisi pengeluaran air kemih yang tidak disadari pada seseorang yang seharusnya pada saat itu pengendalian kandung kemih yang diharapkan sudah tercapai. Sembilan puluh sampai Sembilan puluh lima persen (90-95 %) anak sudah dapat mengendalikan kandung kemih di siang hari dan 80-85 % di malam hari pada umur 5 tahun, jadi anak dikatakan mengompol apabila terjadi pengeluaran urin yang tidak disadari pada anak di atas umur 5 tahun. Enuresis dapat bersifat primer (sekitar 75-90 %) apabila sejak  awal sudah terjadi ngompol dan tidak pernah terjadi kering, sedangkan yang bersifat sekunder apabila sebelumnya sudah pernah terjadi kering selama 6 bulan. Sekitar 75 % enuresis terjadi hanya pada malam hari dan 25 % terjadi pada siang maupun malam hari.

Kejadian tertinggi dari enuresis nokturnal  pada populasi anak prasekolah yaitu 15-20%, menurun menjadi 5-10% pada anak usia 6-7 tahun,  dan menetap 0,5% pada dewasa. Enuresis lebih sering terjadi pada anak laki  (60 %) dibanding perempuan, anak dari golongan sosial ekonomi rendah, anak dengan hambatan sosial atau psikologis dalam periode perkembangan antara umur 2-4 tahun pertama kehidupan, latar pendidikan orangtua yang rendah, toilet training yang tidak adekuat, dan merupakan anak pertama.

Penyebab dari enuresis  adalah bermacam-macam seperti keterlambatan dalam pematangan dan perkembangan kandung kemih, gangguan pola tidur, psikopatologi, stress lingkungan, gangguan urodinamik, penyakit organik pada saluran kemih, dan ketidak normalan pengeluaran hormon antidiuretik  (ADH). Penyebab keterlambatan dalam pematangan dan perkembangan kandung kemih sering dikaitkan dengan kelainan genetik autosomal dominan yang terletak pada kromosom 12 dan13. Sekitar 50 % ditemukan riwayat keluarga. Apabila 1 orang tua pernah menderita enuresis maka 44 % anak mempunyai risiko enuresis, sedangkan apabila ke 2 orang tua, maka risiko meningkat menjadi 77%

Sebelum memahami patofisiologi dari enuresis, ada baiknya mengetahui siklus berkemih yang normal. Pada kandung kemih yang kosong dikatakan memiliki tekanan nol. Bila kandung kemih mulai terisi maka tekanan di dalam kandung kemih mulai meningkat. Ketika kandung kemih hampir penuh timbul rangsangan pada reseptor regang yang terletak dinding dalam kandung kemih dan bagian proksimal uretra, rangsangan pada kandung kemih melalui sistim parasimpatis menyebabkan terjadi reflek berkemih. Pada saat ini akan terjadi kontraksi kandung kemih dan relaksasi bagian proksimal uretra. Reflek berkemih ini dapat dikendalikan dengan adanya pusat berkemih sehingga kita dapat berkemih pada tempatnya.

Kematangan seorang anak untuk dapat mengendalikan kandung  kemih tergantung dari :

  1. Kapasitas kandung kemih yang adekuat
  2. Pengendalian sfingter eksternum kandung kemih secara sadar untuk memulai atau mengakhiri berkemih
  3. Pengendalian pusat  berkemih di otak untuk merangsang atau menghambat proses berkemih pada berbagai tingkat kapasitas kandung kemih.

Bila salah satu dari faktor ini tidak normal maka  enuresis bisa terjadi.  Namun beberapa paradigma menyebutkan ada tiga faktor pencetus dari enuresis, yaitu gangguan tidur pada anak yang menyebabkan anak tidak terbangun walaupun ada sensasi berkemih, ditemui poliuri pada malam hari, dan penurunan kapasitas kandung kemih akibat konstipasi dan infeksi saluran kemih.

Untuk menegakkan diagnosis enuresis perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dari anamnesis, harus dapat menentukan tipe dan beratnya enuresis, sejak kapan terjadinya ngompol, waktu terjadinya ngompol (siang atau malam), terjadinya saat tidur atau dalam keadaan bangun. Setelah itu ditanyakan riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya, keadaan psikososial anak, keadaan keluarga, riwayat enuresis pada orangtua atau saudaranya, dan apakah pernah mengalami konstipasi atau enkopresis.

Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan, namun pemeriksaan daerah abdomen dan alat genital dilakukan lebih teliti. Pemeriksaan reflek perifer, sensasi perineal dan tonus anal, cara berjalan, dan kelainan pada tulang belakang. Pemeriksaan laboratorium biasanya diperlukan untuk mengevaluasi enuresis adalah pemeriksaan analisis air kemih, berat jenis air kemih, biakan urin, ureum, kreatinin, dan lain-lain.

Penatalaksanaan enuresis pada anak dilakukan sesuai dengan tiga faktor penyebab terjadinya enuresis, melalui  dua pendekatan secara non farmakologis dan farmokologis. Tata laksana secara non farmakologis dilakukan dengan terapi perilaku dan konseling yang membutuhkan peran serta dan motivasi orangtua terhadap anak yang dilakukan selama kurang lebih 6 bulan, latihan menahan keinginan berkemih dengan harapan  anak mampu dilatih menahan berkemih secara sadar untuk menghambat kontraksi kandung kemih dan memperbesar kapasitas kandung kemih, mengubah kebiasaan berkemih dengan bantuan alat berupa alarm berupa bel yang dipasang pada tubuh si anak yang cara kerjanya adalah tetes pertama air kemih akan menyebabkan alarm berbunyi dan membangunkan si anak. Selanjutnya alarm diatur untuk waktu yang lebih lama dan akhirnya rangsangan alarm dihentikan begitu anak sudah terlatih untuk bangun tidur sebelum ngompol.

Tata laksana secara farmakologis adalah pemberian obat anti depresan misalnya imipramine yang dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa 40-60% anak berhenti enuresis dan frekuensi enuresisnya berkurang. Dosis yang dianjurkan 1-1,5 mg/kgBB diberikan 1-2 jam sebelum tidur. Pengobatan akan menunjukkan hasil setelah pemberian 1-2 minggu dan bisa diteruskan sampai 6 bulan dengan mengurangi dosis setiap 3-4 minggu. Namun pemberian imipramine tidak dianjurkan pada anak berumur <7 tahun. Imipramin mempunyai efek samping anxietas, insomnia,mulut kering dan mempengaruhi irama jantung.

Ada beberapa obat yang bisa digunakan yaitu desmopressin merupakan sintesis vasopressin. Diberikan secara intranasal waktu tidur dengan tiap semprotan di hidung mengandung 10 gram desmopresin. Obat ini bekerja mengurangi produksi urin sehingga efek sampingnya adalah hiponatremi akibat retensi air. Angka keberhasilan menggunakan obat ini sebesar 10-30%. Obat lain yang juga digunakan adalah obat antikolinergik seperti Oxybutinin dengan dosis 5 mg atau tolterodine 2 mg saat tidur pada anak > 6 tahun. Efek samping berupa konstipasi.

Enuresis yang tidak diobati bisa sembuh spontan 10-20% pertahun, karena enuresis sebenarnya bukanlah suatu penyakit melainkan suatu proses maturasi yang dapat sembuh spontan dengan bertambahnya umur. Yakinkan anak maupun orang tua bahwa kondisi ini akan sembuh sendiri dan hindari memberikan hukuman karena dapat memberikan perkembangan yang buruk pada psikologis anak. Disarankan untuk melakukan motivasi dengan memberikan pujian dan penghargaan pada anak yang tidak mengalami enuresis, karena hukuman dan teguran tidak akan membantu pengobatan.

 

Penulis

dr. I Ketut Suarta, Sp.A(K)

dr. Ni Made Rini Suari, M.Biomed, Sp.A

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *