DIARE PADA ANAK

Diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi didunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal. Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luarbiasa (KLB).

Penyakit diare bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian. Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia

Apakah itu Diare ?

Diare menurut WHO (1999) adalah bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.

Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan.

Apa faktor risiko terjadinya diare

  1. Faktor lingkungan: sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah
  2. Faktor Ibu: Umur, tingkat pendidikan, status kerja, perilaku, hygienitas.
  3. Faktor anak: usia, jenis kelamin, riwayat ASI eksklusif, riwayat imunisasi, status gizi, pemberian vitamin A, penyakit lain.
  4. Faktor sosial ekonomi.

Apa Penyebab Diare

Penyebab diare akut paling umum adalah infeksi virus. Penyebab lain termasuk infeksi bakteri, efeksamping antibiotik, dan infeksi yang tidak berhubungan dengan system pencernaan.

Diare akibat infeksi virus biasanya dimulai 12 jam sampai 4 hari setelah paparan, disertai gejala muntah, dan berhenti dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Tidak ada terapi khusus untuk diare akibat virus. Penanganan untuk diare akibat virus yaitu: cairan rehidrasi oral, diet, dan istirahat. Diare akibat infeksi bakteri kadang sulit untuk dibedakan dari infeksi virus. Gejala yang khas antara lain demam yang tinggi terus-menerus (lebih tinggi dari 40ºC) dan diare disertai darah ataupun lendir.

Bagaimana mengetahui bahwa anak terkena dehidrasi

Dehidrasi ringan sering terjadi pada anak-anak yang menderita diare. Tanda dan gejala dari dehidrasi ringan termasuk mulut sedikit kering, rasa haus, dan penurunan produksi urin  (satu popok basah atau kekosongan dalam enam  jam). Gejala umum dari dehidrasi sedang atau berat termasuk nyata menurun buang air kecil (kurang dari satu popok basah atau tidak buang air kecil dalam enam jam), kurangnya air mata ketika menangis, mulut kering, dan mata cekung.

Bagaimana Penatalaksanaan diare di rumah?

Anak-anak yang tidak mengalami dehidrasi dapat terus makan dan bayi yang sedang menyusui dapat terus menyusui kecuali ada instruksi lain dari dokter. Anak dengan dehidrasi perlu mendapat penggantian cairan yang hilang (Upaya rehidrasi oral)

Makanan yang direkomendasikan meliputi kombinasi dari karbohidrat kompleks (beras, gandum, kentang, roti), daging tanpa lemak, yoghurt, buah-buahan, dan sayuran. Makanan tinggi lemak yang lebih sulit untuk dicerna, buah apel, pir, dan jus ceri, minuman berenergi dan minuman lain dengan kadar gula tinggi harus dihindari.

Upaya Rehidrasi Oral (URO) merupakan alternatif yang lebih aman, lebih murah, dan lebih mudah disbanding penggunaan cairan infus. Larutan rehidrasi oral (oralit) mengandung glukosa (gula) dan elektrolit (natrium, kalium, klorida) yang hilang pada anak dengan muntah dan diare. WHO merekomendasikan penggunaan oralit hipoosmolar, selain dengan oralit URO juga bisa menggunakan bahan dari rumah tangga seperti air tajin. URO tidak menyembuhkan diare, tetapi membantu untuk mengatasi dehidrasi yang sering terjadi. Gelatin, teh, air beras, jus buah, dan minuman lain tidak disarankan untuk digunakan sebagai cairan URO pada anak dengan diare.

Obat antibiotik atau agen anti-diare umumnya tidak diperlukan dan dapat berbahaya bagi bayi atau anak-anak dengan diare. Antibiotik digunakan pada kasus-kasus infeksi bakteri jika penyebab spesifik diare telah diketahui atau diduga kuat. Obat anti diare tidak dianjurkan untuk bayi atau anak-anak, karena manfaatnya tidak lebih besar daripada risiko.

Bagaimana mencegah diare?

Pencegahan diare adalah hal yang paling penting dalam menurunkan angka diare pada anak. Cara yang paling penting untuk mencegah diare adalah dengan menghindari kontak dengan agen infeksi penyebab diare..

Cara pencegahan diare dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :

  1. Mencegah penyebaran kuman penyebab diare meliputi :
    1. Pemberian ASI yang benar
    2. Memperhatikan cara menyiapkan dan menyimpan makanan pendamping ASI
    3. Selalu menggunakan air bersih
    4. Membiasakan diri selalu mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan
    5. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
    6. Membuang tinja bayi yang benar
  2. Menjaga daya tahan tubuh anak
    1. Memberikan ASI paling tidak sampai umur 2 tahun
    2. Menjaga nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberikan makanan dalam jumlah yang cukup untuk meningkatkan status gizi anak
    3. Imunisasi rotavirus yang diberikan sebanyak 3 kali, yaitu: usia 2, 4 dan 6 bulan
    4. Imunisasi campak yang diberikan 2 kali, yaitu: umur 9 bulan dan 6 tahun.

 

(Redaksi)

Dari berbagai sumber.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *