Konstipasi Pada Anak

Konstipasi pada anak merupakan masalah yang sering dihadapi oleh orang tua di seluruh dunia. Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan evakuasi tinja, yang ditandai oleh beberapa aspek, yaitu berkurangnya frekuensi buang air besar (defekasi) dari biasanya, umumnya dua kali defekasi atau kurang dalam seminggu, tinja yang keras dari sebelumnya, dan teraba masa tinja (skibala) dan nyeri yang timbul saat defekasi.

Gejala Konstipasi
Gejala yang muncul bila anak mengalami konstipasi misalnya sakit perut, BAB mungkin disertai rasa sakit, turun atau hilangnya nafsu makan, rewel, mual atau muntah, turunnya berat badan dan noda feses di celana dalam anak yang menandakan banyaknya feses yang tertahan di rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jika anak mengalami konstipasi yang cukup berat, ia dapat kehilangan kemampuan merasakan kebutuhan ke toilet untuk BAB sehingga menyebabkan anak BAB di celananya. Hal ini disebut encopresis atau fecal incontinence. Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan.

Penyebab Konstipasi
Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional. Hampir 95% konstipasi pada anak disebabkan kelainan fungsional dan hanya 5% oleh kelainan organik. Konstipasi fungsional tidak disertai penyebab adanya kelainan pada organ pencernaan karena kelainan anatomis bawaan, penyakit atau obat. Konstipasi fungsional terkait dengan kurangnya asupan serat, kurangnya minum, asupan susu yang berlebihan (susu mengandung rendah serat) , kurang aktivitas fisik, stress dan perubahan aktivitas rutin, ketersediaan toilet dan masalah psikososial. Konstipasi fungsional umumnya terjadi pada umur lebih dari 3 tahun. Frekuensi defekasi pada anak-anak bervariasi menurut umur. Bayi yang minum ASI lebih sering defekasi dibandingkan bayi yang minum susu formula.
Konstipasi fungsional pada anak berhubungan dengan kebiasaan anak menahan defekasi akibat pengalaman nyeri pada defekasi sebelumnya. Pengalaman nyeri saat defekasi ini menimbulkan penahanan tinja ketika ada hasrat untuk defekasi. Penyebab lain anak menahan rasa ingin buang air besar tersebut karena sedang sibuk bermain atau melakukan sesuatu lebih menarik. Kebiasaan menahan tinja yang berulang akan meregangkan rektum dan kemudian kolon sigmoid yang menampung tinja berikutnya. Tinja yang berada di kolon akan terus mengalami penyerapan air dan elektrolit dan membentuk skibala. Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, yaitu tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa sakit dan kemudian retensi tinja selanjutnya. Konstipasi organik bisa disebabkan karena kelainan anatomik, kelainan endokrin, metabolik dan imunologik, kelainan neurologi , kelainan neuromuskular, kelainan otot dan obat-obatan.

Tata Laksana Konstipasi
Anak yang mengalami konstipasi harus dicari penyebab konstipasi apakah fungsional atau organik. Evakuasi tinja bila terjadi skibala yang bermakna, pemberian obat untuk menjaga kekerapan defekasi minimal sekali sehari, modifikasi perilaku seperti banyak minum air putih, diet tinggi serat, melatih kebiasaan BAB yang baik. Kadang anak mengalami kekhawatiran jika harus menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencurigai adanya masalah tersebut, orang tua hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah. Konsultasi psikiatrik bila penyebabnya psikogenik, Pada bayi di bawah usia satu tahun, kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti dengan lebih cermat, dan segera berkonsultasi dengan dokter terutama apabila konstipasi disertai gejala lain seperti keluarnya feses pertama lebih dari 24 jam setelah lahir, gagal tumbuh, demam, diare yang diserai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan di perut, anus yang tidak tampak normal baik bentuk maupun posisinya.

Kenali Infeksi Saluran Kemih Sedini Mungkin

INFEKSI saluran kemih (ISK) adalah penyakit yang sering ditemukan pada anak selain infeksi saluran nafas dan diare. ISK dapat menyebabkan gejala tidak menyenangkan dan menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak. Bila tidak ditanggulangi secara serius, ISK dapat menyebabkan komplikasi berupa batu saluran kemih, hipertensi, ataupun gagal ginjal yang memerlukan tindakan cuci darah atau cangkok ginjal. Karena itu, perlu mengenal ISK sedini mungkin agar dapat ditatalaksana dengan baik untuk menghindari akibat yang lebih buruk.

ISK dapat mengenai semua orang, mulai bayi baru lahir sampai dengan orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. ISK lebih sering dtemukan pada bayi atau anak kecil dibandingkan dengan dewasa. Pada bayi sampai umur tiga bulan, ISK lebih sering pada laki-laki daripada perempuan, tetapi selanjutnya lebih sering pada perempuan daripada laki-laki.

ISK terjadi sebagai akibat masuknya kuman ke dalam saluran kemih. Biasanya kuman berasal dari tinja atau daerah dubur, masuk ke saluran kemih bagian bawah, kemudian naik ke kandung kemih dan dapat sampai ke ginjal. Oleh karena itu, segera ganti popok atau celana si kecil bila ia buang air besar agar tidak terlalu lama bersentuhan dengan tinja.

Sama seperti penyakit infeksi lainnya, ISK akan lebih mudah terjadi pada anak dengan gizi buruk atau pada anak dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Anak yang mengalami sembelit atau sering menahan kencing dapat berisiko terkena ISK.

Gejala ISK pada anak sangat bervariasi, berbeda tiap umur. Pada bayi baru lahir gejala tidak spesifik berupa suhu tubuh tidak stabil (demam atau kedinginan), lemas, rewel , tidak mau menyusu, kuning berkepanjangan, jarang buang air kecil. Pada bayi dan anak kecil gejala dapat berupa demam, rewel, penurunan berat badan, nafsu makan berkurang, muntah, diare, cengeng, gangguan pertumbuhan. Pada anak yang lebih besar dapat terjadi demam, nyeri saat berkemih, anyang-anyangan, mengompol (setelah sebelumnya berhenti mengompol), nyeri perut bagian bawah, nyeri pinggang, air kemih berbau, kadang air kemih keruh atau berwarna kemerahan.

Jika terdapat kecurigaan terhadap ISK, maka perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan air kemih rutin (urinalisis) dan biakan air kemih. Hasil pemeriksaan urinalisis dapat segera diketahui, sedangkan hasil biakan air kemih memerlukan waktu satu minggu.

Pengobatan ISK ditujukan pada tiga hal, yaitu: memberantas infeksi, mendeteksi kelainan anatomi dan fungsional saluran kemih serta menanggulanginya jika ada, mendeteksi dan mencegah infeksi berulang
Untuk memberantas infeksi, diberikan antibiotik selama 7-10 hari yang awalnya dimulai dengan antibiotik empirik (jenisnya didasarkan pada kuman yang sering ditemukan selama ini) sampai didapatkan hasil biakan air kemih, lalu dilanjutkan dengan antibiotik yang sesuai dengan hasil biakan tersebut.

Untuk mendeteksi kelainan anatomi dan fungsional saluran kemih dapat dilakukan pemeriksaan seperti ultrasonografi (USG) ginjal dan saluran kemih, atau pemeriksaan pencitraan lain (VCUG , MSU, skintigrafi DMSA ) jika dianggap perlu.
Untuk mendeteksi infeksi berulang, perlu dilakukan pemeriksaan biakan air kemih secara berkala dan jika terdapat infeksi maka infeksi ini diobati dengan antibiotik yang sesuai.

Pencegahan paling awal yang dapat dilakukan adalah selalu menjaga kebersihan saat bayi atau anak buang air kecil dan buang air besar, bilas dengan air sampai bersih dengan arah dari depan ke belakang. Faktor resiko terjadinya ISK berulang terutama pada anak perempuan adalah pemakaian bubble bath, pakaian dalam terlalu sempit, pemakaian deodorant yang bersifat iritatif pada kulit di sekitar kelamin, atau pemakaian toilet paper yang salah.

Referensi:
-Unit Kerja Koordinasi Nefrologi IDAI. Konsensus Infeksi Saluran Kemih pada Anak. Jakarta: Badan Penerbit IDAI, 2011.

WASPADAI PENYAKIT KAWASAKI PADA ANAK

Screen shot 2010-07-17 at 11.17.07 AM

Penyakit kawasaki sudah mulai banyak ditemukan di Indonesia. Meskipun demikian, agaknya kasus yang ditemukan tersebut hanyalah sebagian kecil dari yang sebenarny ada. Kemungkinan besar banyak kasus yang tidak terdiagnosis. Hal yang ditakuti dari penyakit ini adalah komplikasi ke arteri koroner, seperti thrombosis dan stenosis arteri koroner dengan akibat infarkmiokard dan dapat berakhir pada kematian. Jadi, sejauh mana kita memahami penyakit kawasaki?

Penyakit Kawasaki merupakan penyakit multisystem idiopatik, bersifat self-limiting yang ditandai dengan adanya vaskulitis pembuluh darah, termasuk arteri koroner dan terutama menyerang anak berusia dibawah 5 tahun. Penyakit ini pertama kali ditemukan olehTomisaku Kawasaki pada tahun 1967 di Jepang. Dilaporkan adanya 50 anak dengan gejala demam akut disertai eksantema yang didiagnosis sebagai mucocutan lymph node syndrome. Penyakit ini dapat menimbulkan koplikasi pada jantung. Berdasarkan data ekokardiografi dan angiografi, 20-40% kasus PK (Penyakit Kawasaki) yang tidak diobati akan menyebabkan kelainan arteri koroner jantung sehingga mengakibatkan thrombosis koroner, stenosis koroner, infark miokard, dan kematian.

m_jpg120005fa

Penyakit ini dapat ditemukan di seluruh dunia, namun lebih banyak ditemukan pada orang Asia. PK umumnya menyerang anak balita (80%) jarang ditemukan pada anak kurang dari 3 bulan atau diatas 8 tahun. Usia tersering adalah 1-2 tahun (50%). Perbandingan antara laki-laki dan perempuan adalah 1,5 : 1.angka kekambuhan berkisar 3%. PK dapat muncul sepanjang tahun, terutama pada musim dingin dan musim semi.

Penyebab pasti dari PK belum diketahui hingga saat ini. Diduga PK dipacu oleh gangguan sistem imun yang didahului oleh suatu proses infeksi. Beberapa factor resiko yang menyebabkan terkena PK antara lain faktor host (usia dibawah 5 tahun, variasi musim, tinggal di lingkungan epidemik), adanya agen penyebab (bakteri, Retrovirus, toksin bakeri, New Haven Coronavirus ), dan akibat respon imunologis yang dicetuskan agen mikrobial

PK menimbulkan vaskulitis sistemik yang berat pada arteri berukuran sedang predileksi utama pada arteri koroner. Pada fase akut dan subakut, terjadi edema dan infiltrasi sel radang pada endotel dan otot polos. Bila terjadi serangan berat, proses inflamasi akan terjadi pada tiga lapis dinding vaskuler sehingga terjadi dilatasi dan aneurisma. Trombosis dapat terjadi pada lumen dan menyumbat aliran darah. Pada fase penyembuhan, lesi menjadi fibrotic dengan proliferasi intima sehingga terjadi stenosis.

Gambaran klinis PK tidak bersifat patognomonik, dibagi berdasarkan 3 fase yaitu fase akut, subakut, dan kovalesen:

  1. Fase akut ( 10 hari pertama) : gejala bersifat diagnostic antara lain adalah demam tinggi (>39°C samapai>40°C) bersifat remiten, dan tidak berespon terhadap pemberian antipiretik dan antibiotik, konjungtivitis bilateral tanpa eksudat, bibir menjadi merah dan pecah-pecah lidah merah (strawberry tongue ), dan eritema difus pada rongga mulut dan faring, edema induratif dan kemerahan pada telapak tangan dan kaki, eksantema polimorfik (urtika, makula, papula) tersebar di wajah, badan, ekstremitas, maupun daerah perianal, pembesaran kelenjar getah bening servikal (50% kasus), hampir selalu bersifat unilateral, ? 1 limfanodi, dan berdiameter>1,5 cm. Temuan lain yaitu piuria steril (60% kasus), gangguan fungsi hati (40%) arthritis sendi besar (30%) meningitis aseptik (30%), nyeri perut dengan diare (20%). Kelainan kardiovaskuler dapat berupa takikardi, aritmia, irama derap, bising jantung,kardiomegali, efusi pericardium dan pada EKG ditemukan PR memanjang, QRS low voltage, ST depresi/elevasi
  2. Fase subakut (hari 11-25) : Deskuamasi ujung jari tangan dan kaki, eksantema, demam, dan limfadenopati menghilang, dapat terjadi dilatasi/aneurisma arteri koroner, efusi perikardium, gagal jantung, infark miokard, dan tombositosis (dapat mencapai> 1.000.000/mm3)
  3. Fase konvalesen ( 6-8 minggu dari onset penyakit): Laju endap darah dan hitung trombosit mencapai normal. Terjadi perbaikan klinis, tetapi kelainan jantung dapat terus berangsung

Penegakan diagnosis PK berdasarkan gejala klinis terdiri dari 6 kriteria diagnosis yaitu :

  1. Demam remiten (> 39°C/102°F sampai> 40°C/104°C) berlangsung ? 5 hari. Kriteria demam bersifat mutlak.
  2. Konjungtivitis bilateral tanpa eksudat
  3. Kelaianan pada mulut : bibir merah pecah, strawberry tongue, dan rongga mulut merah difus
  4. Kelaianan pada tangan dan kaki berupa eritema dan edema
  5. Eksantema polimorfik
  6. Limfadenopati servikal (diameter > 1,5 meter)

Diagnosis PK dapat ditegakkan jika :

  1. Didapatkan demam, ditambah 4 dari 5 kriteria diagnostik yang lain.
  2. Didapatkan kelainan arteri koroner pada ekokardiografi, meskipun hanyadijumpai< 4 kriteria selain demam.

Jika didapatkan demam, disertai < 4 kriteria lain dan kelainan koroner, maka dikenal sebagai penyakit Kawasaki atipik yang sering dijumpai pada bayi berusia < 6 bulan.

Diagnosis Banding PK diantaranya adalah penyakit infeksi (campak, staphylococcal scalded skin syndrome, leptospirosis, toksoplasmosis, demam scarlet), raksiimun/alergi (atypical acute renal failure, reaksiobat, Stevens-Johnson Syndrome) dan toksin (merkuri)

Pada pemeriksaan laboratorium (tidak ada yang khas) namun sering ditemukan leukositosis (> 15.000/mm3) dengan hitung jenis bergeser ke kiri, CRP dan alfa 1 antitripsis meningkat, LED > 100 mm/jam pada fase akut, trombositosis (fase subakut) dapat mecapai 1.000.000/mm3, piuria, enzim hati meningkat, dan CKMB dapat meningkat (adanya infark miokard)

Pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) harus dilakukan saat diagnosis ditegakan. Didapatkan interval PR memanjang, QRS low voltage, ST depresi/elevasi, dan QTcmemanjang. Gelombang Q abnormal (lebar dan dalam) menunjukan adanya infark miokard. Selain itu setiap pasien PK atau dengan kecurigaan PK harus dilakukan pemeriksaan ekokardiografi, jika pada pemeriksaan ekokardiografi pertama saat diagnosis tegak tidak ditemukan kelaian, pemeriksaan bisa diulang 2 minggu setelah awitan, dan diulang kembali setelah 6 minggu. Jika hasil normal dan LED kembali normal, maka ekokardiografi tidak perlu diulang. Namun jika pada fase akut ditemukan kelainan, ekokardiografi dapat diulang seminggu sekali. Pada pemeriksaan rontgent horaks ditemukan kardiomegali jika terjadi miokarditis atau kelainan arteri korone rmaupun regurgitasi katup yang berat.

Tatalaksanapada PK adalahdenganpemberian

  1. IGIV (Imunoglobulin Intravena) secepatnya setelah diagnosis di tegakan, dengan dosis 2 gr/kgBB dosis tunggal yang diberikansecara intravena selama 10-12 jam. Pemberian IVIG secara dini (terutama 10 hari pertama awitan penyakit) terbukti mengurangi angka kejadian kelainan koroner. Pada bayi dengan Pk yang mengalami gangguan fungsi jantung (tidak dapat mentoleransi dosis tunggal IGIV karena jumlah cairan yang masuk sekaligus relative banyak) dapat memilih dosi salternatif IGIV sebagai berikut 400 mg/kgBB/hari selama 4 hari. IGIV dapat diberikan setelah hari ke 10 jika tanda penyakit masih aktif, namun pada anak yang tidak menunjukan tanda penyakit aktif setelah 10 hari awitan, pemberian IGIV tidak bermanfaat lagi.
  2. Aspirin diberikan bersama IGIV dengan dosis 80-100 mg/kgBB secara oral dalam 4 dosis hingga hari ke 14 awitan atau 2-3 hari setelah demam reda. Dosis kemudian diturunkan menjadi 3-10 mg/kgBB/hari sekali sehari sampai 6-8 minggu sejak awitan dan kemudian dapat dihentikan jika hasil ekokardigrafi normal. Pada anak yang menderita kelaian arteri koroner pemberian asprin diteruskan.
  3. Penggunaan kortikosteroid masih menjadi perdebatan.

Komplikasi yang dapat terjadi yaitu pada 15-20% kasus dapat dijumpai anurisma koroner dan kurang dari 5% menjadi infark miokard (70% terjadi pada tahun pertama sejak awitan). Gejala infark miokard pada anak antara lain mual, muntah, pucat, tangis berkepanjangan, dan keringat berlebih.

Sumber

  1. Jane Want dkk. Diagnosis, treatment and long term management of Kawasaki disease: a statement for health professionals from the committee on rheumatic fever, endocarditis and Kawasaki diasese council on cardiovascular disease in the young, American Heart Association. Circulation. 2004; 110;2747-71
  2. Myung KP. Kawasaki’s disease. Dalam : Pediatric Cardiology for Practitioners. Edisi ke-4. Elsevier Health Sciences; 2008. Hal 367-75
  3. Najib A. Mengenal Penyakit Kawasaki. Jakarta : Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI; 2004

ENURESIS PADA ANAK

Enuresis atau dikenal dengan istilah “ngompol” merupakan suatu istilah dari kondisi pengeluaran air kemih yang tidak disadari pada seseorang yang seharusnya pada saat itu pengendalian kandung kemih yang diharapkan sudah tercapai. Sembilan puluh sampai Sembilan puluh lima persen (90-95 %) anak sudah dapat mengendalikan kandung kemih di siang hari dan 80-85 % di malam hari pada umur 5 tahun, jadi anak dikatakan mengompol apabila terjadi pengeluaran urin yang tidak disadari pada anak di atas umur 5 tahun. Enuresis dapat bersifat primer (sekitar 75-90 %) apabila sejak  awal sudah terjadi ngompol dan tidak pernah terjadi kering, sedangkan yang bersifat sekunder apabila sebelumnya sudah pernah terjadi kering selama 6 bulan. Sekitar 75 % enuresis terjadi hanya pada malam hari dan 25 % terjadi pada siang maupun malam hari.

Kejadian tertinggi dari enuresis nokturnal  pada populasi anak prasekolah yaitu 15-20%, menurun menjadi 5-10% pada anak usia 6-7 tahun,  dan menetap 0,5% pada dewasa. Enuresis lebih sering terjadi pada anak laki  (60 %) dibanding perempuan, anak dari golongan sosial ekonomi rendah, anak dengan hambatan sosial atau psikologis dalam periode perkembangan antara umur 2-4 tahun pertama kehidupan, latar pendidikan orangtua yang rendah, toilet training yang tidak adekuat, dan merupakan anak pertama.

Penyebab dari enuresis  adalah bermacam-macam seperti keterlambatan dalam pematangan dan perkembangan kandung kemih, gangguan pola tidur, psikopatologi, stress lingkungan, gangguan urodinamik, penyakit organik pada saluran kemih, dan ketidak normalan pengeluaran hormon antidiuretik  (ADH). Penyebab keterlambatan dalam pematangan dan perkembangan kandung kemih sering dikaitkan dengan kelainan genetik autosomal dominan yang terletak pada kromosom 12 dan13. Sekitar 50 % ditemukan riwayat keluarga. Apabila 1 orang tua pernah menderita enuresis maka 44 % anak mempunyai risiko enuresis, sedangkan apabila ke 2 orang tua, maka risiko meningkat menjadi 77%

Sebelum memahami patofisiologi dari enuresis, ada baiknya mengetahui siklus berkemih yang normal. Pada kandung kemih yang kosong dikatakan memiliki tekanan nol. Bila kandung kemih mulai terisi maka tekanan di dalam kandung kemih mulai meningkat. Ketika kandung kemih hampir penuh timbul rangsangan pada reseptor regang yang terletak dinding dalam kandung kemih dan bagian proksimal uretra, rangsangan pada kandung kemih melalui sistim parasimpatis menyebabkan terjadi reflek berkemih. Pada saat ini akan terjadi kontraksi kandung kemih dan relaksasi bagian proksimal uretra. Reflek berkemih ini dapat dikendalikan dengan adanya pusat berkemih sehingga kita dapat berkemih pada tempatnya.

Kematangan seorang anak untuk dapat mengendalikan kandung  kemih tergantung dari :

  1. Kapasitas kandung kemih yang adekuat
  2. Pengendalian sfingter eksternum kandung kemih secara sadar untuk memulai atau mengakhiri berkemih
  3. Pengendalian pusat  berkemih di otak untuk merangsang atau menghambat proses berkemih pada berbagai tingkat kapasitas kandung kemih.

Bila salah satu dari faktor ini tidak normal maka  enuresis bisa terjadi.  Namun beberapa paradigma menyebutkan ada tiga faktor pencetus dari enuresis, yaitu gangguan tidur pada anak yang menyebabkan anak tidak terbangun walaupun ada sensasi berkemih, ditemui poliuri pada malam hari, dan penurunan kapasitas kandung kemih akibat konstipasi dan infeksi saluran kemih.

Untuk menegakkan diagnosis enuresis perlu dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Dari anamnesis, harus dapat menentukan tipe dan beratnya enuresis, sejak kapan terjadinya ngompol, waktu terjadinya ngompol (siang atau malam), terjadinya saat tidur atau dalam keadaan bangun. Setelah itu ditanyakan riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya, keadaan psikososial anak, keadaan keluarga, riwayat enuresis pada orangtua atau saudaranya, dan apakah pernah mengalami konstipasi atau enkopresis.

Pada pemeriksaan fisik biasanya tidak ditemukan kelainan, namun pemeriksaan daerah abdomen dan alat genital dilakukan lebih teliti. Pemeriksaan reflek perifer, sensasi perineal dan tonus anal, cara berjalan, dan kelainan pada tulang belakang. Pemeriksaan laboratorium biasanya diperlukan untuk mengevaluasi enuresis adalah pemeriksaan analisis air kemih, berat jenis air kemih, biakan urin, ureum, kreatinin, dan lain-lain.

Penatalaksanaan enuresis pada anak dilakukan sesuai dengan tiga faktor penyebab terjadinya enuresis, melalui  dua pendekatan secara non farmakologis dan farmokologis. Tata laksana secara non farmakologis dilakukan dengan terapi perilaku dan konseling yang membutuhkan peran serta dan motivasi orangtua terhadap anak yang dilakukan selama kurang lebih 6 bulan, latihan menahan keinginan berkemih dengan harapan  anak mampu dilatih menahan berkemih secara sadar untuk menghambat kontraksi kandung kemih dan memperbesar kapasitas kandung kemih, mengubah kebiasaan berkemih dengan bantuan alat berupa alarm berupa bel yang dipasang pada tubuh si anak yang cara kerjanya adalah tetes pertama air kemih akan menyebabkan alarm berbunyi dan membangunkan si anak. Selanjutnya alarm diatur untuk waktu yang lebih lama dan akhirnya rangsangan alarm dihentikan begitu anak sudah terlatih untuk bangun tidur sebelum ngompol.

Tata laksana secara farmakologis adalah pemberian obat anti depresan misalnya imipramine yang dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa 40-60% anak berhenti enuresis dan frekuensi enuresisnya berkurang. Dosis yang dianjurkan 1-1,5 mg/kgBB diberikan 1-2 jam sebelum tidur. Pengobatan akan menunjukkan hasil setelah pemberian 1-2 minggu dan bisa diteruskan sampai 6 bulan dengan mengurangi dosis setiap 3-4 minggu. Namun pemberian imipramine tidak dianjurkan pada anak berumur <7 tahun. Imipramin mempunyai efek samping anxietas, insomnia,mulut kering dan mempengaruhi irama jantung.

Ada beberapa obat yang bisa digunakan yaitu desmopressin merupakan sintesis vasopressin. Diberikan secara intranasal waktu tidur dengan tiap semprotan di hidung mengandung 10 gram desmopresin. Obat ini bekerja mengurangi produksi urin sehingga efek sampingnya adalah hiponatremi akibat retensi air. Angka keberhasilan menggunakan obat ini sebesar 10-30%. Obat lain yang juga digunakan adalah obat antikolinergik seperti Oxybutinin dengan dosis 5 mg atau tolterodine 2 mg saat tidur pada anak > 6 tahun. Efek samping berupa konstipasi.

Enuresis yang tidak diobati bisa sembuh spontan 10-20% pertahun, karena enuresis sebenarnya bukanlah suatu penyakit melainkan suatu proses maturasi yang dapat sembuh spontan dengan bertambahnya umur. Yakinkan anak maupun orang tua bahwa kondisi ini akan sembuh sendiri dan hindari memberikan hukuman karena dapat memberikan perkembangan yang buruk pada psikologis anak. Disarankan untuk melakukan motivasi dengan memberikan pujian dan penghargaan pada anak yang tidak mengalami enuresis, karena hukuman dan teguran tidak akan membantu pengobatan.

 

Penulis

dr. I Ketut Suarta, Sp.A(K)

dr. Ni Made Rini Suari, M.Biomed, Sp.A

DIARE PADA ANAK

Diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi didunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal. Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luarbiasa (KLB).

Penyakit diare bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian. Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia

Apakah itu Diare ?

Diare menurut WHO (1999) adalah bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.

Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan.

Apa faktor risiko terjadinya diare

  1. Faktor lingkungan: sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah
  2. Faktor Ibu: Umur, tingkat pendidikan, status kerja, perilaku, hygienitas.
  3. Faktor anak: usia, jenis kelamin, riwayat ASI eksklusif, riwayat imunisasi, status gizi, pemberian vitamin A, penyakit lain.
  4. Faktor sosial ekonomi.

Apa Penyebab Diare

Penyebab diare akut paling umum adalah infeksi virus. Penyebab lain termasuk infeksi bakteri, efeksamping antibiotik, dan infeksi yang tidak berhubungan dengan system pencernaan.

Diare akibat infeksi virus biasanya dimulai 12 jam sampai 4 hari setelah paparan, disertai gejala muntah, dan berhenti dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Tidak ada terapi khusus untuk diare akibat virus. Penanganan untuk diare akibat virus yaitu: cairan rehidrasi oral, diet, dan istirahat. Diare akibat infeksi bakteri kadang sulit untuk dibedakan dari infeksi virus. Gejala yang khas antara lain demam yang tinggi terus-menerus (lebih tinggi dari 40ºC) dan diare disertai darah ataupun lendir.

Bagaimana mengetahui bahwa anak terkena dehidrasi

Dehidrasi ringan sering terjadi pada anak-anak yang menderita diare. Tanda dan gejala dari dehidrasi ringan termasuk mulut sedikit kering, rasa haus, dan penurunan produksi urin  (satu popok basah atau kekosongan dalam enam  jam). Gejala umum dari dehidrasi sedang atau berat termasuk nyata menurun buang air kecil (kurang dari satu popok basah atau tidak buang air kecil dalam enam jam), kurangnya air mata ketika menangis, mulut kering, dan mata cekung.

Bagaimana Penatalaksanaan diare di rumah?

Anak-anak yang tidak mengalami dehidrasi dapat terus makan dan bayi yang sedang menyusui dapat terus menyusui kecuali ada instruksi lain dari dokter. Anak dengan dehidrasi perlu mendapat penggantian cairan yang hilang (Upaya rehidrasi oral)

Makanan yang direkomendasikan meliputi kombinasi dari karbohidrat kompleks (beras, gandum, kentang, roti), daging tanpa lemak, yoghurt, buah-buahan, dan sayuran. Makanan tinggi lemak yang lebih sulit untuk dicerna, buah apel, pir, dan jus ceri, minuman berenergi dan minuman lain dengan kadar gula tinggi harus dihindari.

Upaya Rehidrasi Oral (URO) merupakan alternatif yang lebih aman, lebih murah, dan lebih mudah disbanding penggunaan cairan infus. Larutan rehidrasi oral (oralit) mengandung glukosa (gula) dan elektrolit (natrium, kalium, klorida) yang hilang pada anak dengan muntah dan diare. WHO merekomendasikan penggunaan oralit hipoosmolar, selain dengan oralit URO juga bisa menggunakan bahan dari rumah tangga seperti air tajin. URO tidak menyembuhkan diare, tetapi membantu untuk mengatasi dehidrasi yang sering terjadi. Gelatin, teh, air beras, jus buah, dan minuman lain tidak disarankan untuk digunakan sebagai cairan URO pada anak dengan diare.

Obat antibiotik atau agen anti-diare umumnya tidak diperlukan dan dapat berbahaya bagi bayi atau anak-anak dengan diare. Antibiotik digunakan pada kasus-kasus infeksi bakteri jika penyebab spesifik diare telah diketahui atau diduga kuat. Obat anti diare tidak dianjurkan untuk bayi atau anak-anak, karena manfaatnya tidak lebih besar daripada risiko.

Bagaimana mencegah diare?

Pencegahan diare adalah hal yang paling penting dalam menurunkan angka diare pada anak. Cara yang paling penting untuk mencegah diare adalah dengan menghindari kontak dengan agen infeksi penyebab diare..

Cara pencegahan diare dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :

  1. Mencegah penyebaran kuman penyebab diare meliputi :
    1. Pemberian ASI yang benar
    2. Memperhatikan cara menyiapkan dan menyimpan makanan pendamping ASI
    3. Selalu menggunakan air bersih
    4. Membiasakan diri selalu mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan
    5. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
    6. Membuang tinja bayi yang benar
  2. Menjaga daya tahan tubuh anak
    1. Memberikan ASI paling tidak sampai umur 2 tahun
    2. Menjaga nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberikan makanan dalam jumlah yang cukup untuk meningkatkan status gizi anak
    3. Imunisasi rotavirus yang diberikan sebanyak 3 kali, yaitu: usia 2, 4 dan 6 bulan
    4. Imunisasi campak yang diberikan 2 kali, yaitu: umur 9 bulan dan 6 tahun.

 

(Redaksi)

Dari berbagai sumber.

Pemasangan Infus Vena Umbilikalis

PENDAHULUAN

Angka kejadian phlebitis di rumah sakit terutama yang terjadi pada pemasangan vena kateter pada anak sampai saat ini masih tinggi. Terkait dengan hal tersebut khususnya pada pasien dengan bayi baru lahir pemberian cairan parenteral lebih efektif diberikan menggunakan infus melalui vena umbilikalis. Selain vena besar, vena umbilikal juga sangat mudah dicari karena hanya satu-satunya pembuluh darah vena di umbilikal sehingga hanya membutuhkan waktu yang relatif efisien.

 

VENA UMBILIKALIS

Venaumbilikalis merupakan satu-satunya vena di umbilikius, relatif besar dengan diameter 4-5 mm, panjang 2-3 cm dan berdinding tipis. Dari umbilikus,vena berjalan ke arah kepala, sedikit ke kanan dan memasuki cabang sinistravenaportal setelah memberikan beberapa cabang kecil di dalam hepar.

 

INDIKASI PEMBERIAN

  1. Transfusi tukar
  2. Monitoring tekananvena sentral (Central VenousPressure/CVP)
  3. Pemberian  cairan  intravena,  akses  cepat  pada  keadaan  darurat  (saat  resusitasi),  pemberian produk darah atau obat-obatan.

 

KONTRAINDIKASI

  1. Terdapat gangguan vaskuler di daerah panggul atau ekstremitas bawah
  2. Enterokolitis nekrotikans,kecuali pada keadaan darurat dan akses lain tidak memungkinkan
  3. Peritonitis
  4. Omfalitis dan omfalokel
  5. Perdarahan atau kecenderungan thrombosis merupakan kontra indikasi relatif.

 

PERALATAN

  1. Handuk steril untuk mengeringkan tangan dan lengan bawah
  2. Gaun operasi dan sarung tangan
  3. Duk lubang ditengah (sebaiknya transparan, sehingga bisa terlihat kalau ada komplikasi, seperti pucat pada daerah panggul dan ekstrimitas)
  4. Kateter umbilika lsinglelumen, radioopak, diamete rkecil(Fr3,5 untuk berat badan < 1200g dan Fr5 untuk berat badan >1200g) untuk meminimalkan jumlah darah yang harus dikeluarkan saat membersihkan kateter sebelum pengambilan sampel. Ujung kateter harus lembut dan membulat, dan bahan yang tidak trombogenik
  5. Threeway stop cockdengan luer lock
  6. Spuit
  7. Cairan NaCl 0,9%- heparin1Ui/cc (0,5N saline)
  8. Komuntukanti septic (betadin)
  9. Set pemasangan arteri umbilikal yang terdiri dari : 1 buah dukklem, 2 buah pinset anatomis dengan ujung runcing (pinsetiris), 1 buah gunting benang, 2 buah klemarteri bengkok, 1 buah needle holder dan 1 buah scalpel no 11 dengan gagang
  10. Tali katun dan Benang silkno2/0 at3/0 dengan jarum round body
  11. Plester
  12. Kasa

 

TEKNIK PEMASANGAN

1. Ukur panjang kateteryangakan di masukkan, terdapat beberapa cara yaitu:

–       Untuk Venaumbilikalis Mengukur jarak antara umbilikus ke prose susxyphoideus, ditambah dengan panjang sisa umbilikal.

–       Untuk Arteri umbilikalis  :Mengukur jarak antara umbilikus ke acromion, ditambah dengan panjang sisa umbilikal.

–       Mengukur dengan rumus :(1,5x BB) + 5,5cmatau 1/2{(BB x3)+9 cm}+1

2. Lakukan persiapan

–       Persiapan penolong. Cuci tangan steril kemudian pasangsarung tangan steril.

–       Persiapan alat. Susun semua alat yang diperlukan di atas meja steril. Siapkan cairan NaCl-heparin dalam spuit 10cc. Pasang threewaystopcock ke kateter umbilikal, sambungkan dengan spuit dan isi dengan NaCl-heparin, kemudian putar stopcock ke posisi off kearah kateter. Hati-hati jangan sampai ada udara.

–       Persiapan pasien. Ikat kedua kaki bayi dengan popok kemudian plester ketempat tidur atau tahan dengan menggunakan bantal pasir. Tutup alat kelamin bayi dengan kain untuk menghindar ikencing bayi mengotori lapangan tindakan. Pegang umbilikal dengan kasa betadin atau klem (ingat umbilikal belum steril) dan tarik lembut secara vertikal. Lakukan desinfeksi dengan cairan anti septic (povidin dll.) sebanyak 3 kali mulai dari bagian tengah dan teruskan dengan gerakan melingkar ke bagian luar (minimal radius 5cm dari umbilikal) setelah itu bersihkan umbilikal, dan pasang duk lubang di atas umbilikal.

3. Ikat umbilikal dan potong datar dengan scalpel.

4. Identifikasi vena umbilikal. Buang semua bekuan darah yang terdapat dalam vena dengan pinsetiris. Pasang kateter dengan pinsetiris dan masukkan dengan lembut sampai ukuran yang telah ditentukan. Jika terdapat tahanan pada saat memasukkan kateter, jangan di paksa, tarik±4-5cm, kemudian masukkan kembali sambil diputar pelan searah jarum jam. Kalau masih ada tahanan, bisa dicoba memasukkan kateter lain di bawah kateter pertama dan masukan dengan lembut, biasanya kateter kedua akan langsung memasuki duktus venosus.

5. Target pemasangan apabila dilakukan fotorontgen:

–       Vena umbilikalis  setinggi diafragma (vertebrathorakal IX-X)

–       Arteri umbilikalis      setinggi vertebra thorakalVI-IX

 

YANG PERLU DIPERHATIKAN

  1. Jangan  biarkan  kateter  dalam  keadaan  terbuka.  Tekanan  negatif  dari  intra  abdominal  bisa menarik udara dan menyebabkan emboli udara.
  2. Untuk pemberian cairan, kateter harus berada di dalam vena cava, tepat di bawah atrium kanan, tidak boleh berada di dalam vena porta.
  3. Untuk resusitasi, UVC dipasang dangkal, hanya sedikit dibawah kulit, sampai ada aliran darah bebas (free-flow) saat ditarik dengan spuit.
  4. Kateter umbilikal harus dilepas bila sudah tidak dibutuhkan lagi atau terjadi malposisi/terlepas dari posisi awal.
  5. Durasi pemasangan katetervena umbilikal dapatdipertahankan selama14 hari.

KOMPLIKASI
a. Perdarahan, infeksi
b. Enterokolitis nekrotikans
c. Perforasi kolon atau peritoneum
d. Hipertensi portal dan nekrosis hepar.

KESIMPULAN
Pemasangan kateterisasi vena umbilikus merupakan tindakan yang relatif efisien dalam
terapi pemberian cairan karena langsung di vena besar dalam tubuh, akan tetapi hanya bisa
dilakukan pada bayi yang baru lahir saja, karena tali pusat akan layu setelah 24 jam. Tindakan relatif
mudah akan tetapi harus hati-hati dan selalu memperhatikan prinsip sterilisasi mengingat komplikasi
yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Grady NPO, Alexander M, Burns LA, Dellinger P, Garland J, Heard SO, et al. Guidelines for
Prevention of Intravascular Catheter-Related Infections, 2011. Centers for Disease Control and
Prevention. 2011:1-83.
2. Cardenas G, Finelli M, Harris C, Jonas D, Martins G, Steinmass M, et al. Central Access: Umbilical
Artery and Vein Cannulation. Clinical Best Practice Guideline. 2008:1-36.
3. O-Hara MB, Buzzard CJ, Reubens L, McDermott MP, DDiGrazio W, D’Angio CT. A Randomized
Trial Comparing Long-term and Short-term Use of Umbilical Venous Catheters in Premature
Infants with Birth Weights of Less Than 1251 Grams. Pediatrics. 2006;118(1):25-35.

PANDAS

PANDAS merupakan singkatan dari Pediatrics Autoimmune Neuropsychiatric Disorder Associated with Streptococcal Infection, pertama kali dipublikasi tahun 1998. Walaupun sebelumnya telah dikenal dengan sangat baik adanya sekuele neurologis akibat infeksi oleh bakteri streptokokus misalnya Sydenham’s chorea yang telah diuraikan oleh William Osler pada tahun 1894, penyakit ini merupakan suatu kondisi yang jarang pada anak dimana anak tiba tiba mengalami gangguan psikiatrik biasanya berupa Obsesive Compulsive Disorder (OCD) atau TIC setelah mengalami infeksi oleh bakteri group A beta-haemolytic streptococcus (GABHS).

Epidemiologi

Berdasarkan epidemilogi, PANDAS mengenai anak usia muda dengan onset gejala pada usia 3-9 tahun, lebih sering mengenai anak laki laki, dengan onset gejala psikiatri yang tiba tiba. Sekitar 48% menunjukkan gejala OCD, 52% menunjukkan gejala TIC dan sekitar 80% menunjukkan gejala OCD dan TIC. Hampir pada sebagian besar penderita dengan eksaserbasi menunjukkan gejala gerakan chorea Komorbiditas yang sering menyertai pada anak dengan PANDAS adalah ADHD, depresi mayor, gangguan cemas, enuresis, yang seringkali berkorelasi dengan memburuknya gejala OCD dan TIC.

Patofisiologi

PANDAS secara patofisiologi dianggap mirip dengan Chorea Sydenham. PANDAS merupakan gangguan autoimun dimana antibodi yang seharusnya melawan infeksi streptokokus, juga menyerang bagian otak yang disebut basal ganglia yang mengakibatkan ekstremitas, tubuh, otot otot wajah mengalami gerakan gerakan yang tak terkendali yang sering dikenal dengan istilah gerakan involunter atau gerakan yang tidak disadari. Faktor faktor yang dihubungkan sebagai risiko PANDAS adalah: infeksi oleh bakteri GABHS dan adanya predisposisi genetik. Kerentanan individu terhadap infeksi yang dipicu gangguan autoimun sangat tergantung pada genetik. Respon imun yang abnormal diikuti oleh pembentukan antibodi yang mengganggu aktivitas neuronal dan akhirnya merusak sawar darah otak akibat inflamasi sehingga memungkinkan antibodi masuk mencapai susunan saraf pusat dan mempengaruhi fungsinya. Sel basal ganglia memiliki permukaan yang mirip dengan permukaan antigen streptokokus. Ketika antibodi dalam darah anak yang terinfeksi streptokokus melewati sawar darah otak, antibodi antibodi tersebut keliru mengenali sel basal ganglia sebagai antigen streptokokus sehingga antibodi tersebut menonaktifkan dan menghancurkan sel sel basal ganglia. Antibodi juga melekat pada neuron dan mengganggu sinyal neuron dengan meningkatkan produksi calcium–calmodulin dependent protein kinase II (CaM Kinase II) dalam basal ganglia yang pada akhirnya mempengaruhi produksi neurotransmitter seperti dopamine. Antibodi yang beredar dalam darah bisa mencapai SSP hanya bila terjadi inflamasi pada meningen yang menyebabkan kerusakan sawar darah otak.

Manifestasi klinis

Tidak ada gejala klinis yang khas, namun beberapa gejala klinis berikut dapat digunakan untuk mengidentifikasi PANDAS diantaranya: TIC, obsesif-kompulsif, gerakan chorea, emosi yang labil, perubahan kepribadian, perilaku yang tidak sesuai, kecemasan berpisah, hiperaktif, depresi mayor, menurunnya kemampuan menulis atau ketrampilan matematik, enuresis, anoreksia dan nyeri sendi, kelelahan, kekakuan seperti gejala penyakit autoimun yang lain.

Diagnosis

Diagnosis PANDAS adalah diagnosis klinis yang sangat tergantung pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pada anamnesis harus menunjukkan suatu onset yang mendadak dari gejala klinis yang telah disebutkan diatas. Kriteria untuk menegakkan diagnosis PANDAS (dimodifikasi berdasarkan suatu studi yang mengidentifikasi 50 kasus PANDAS yang pertama oleh Susan E. Swedo et al., Am J Psychiatry 155:2 Feb 1998) adalah sbb:

  1. Adanya gejala OCD atau TIC – pasien memenuhi gejala OCD /TIC sesuai criteria DSM V)
  2. Onset pada anak anak – gejala pertama terjadi pada saat usia 3 tahun samapi awal pubertas.
  3. Beratnya gejala berlangsung secara episodik dengan onset tiba tida dan terjadi gejala eksaserbasi yang dramatis
  4. Berhubungan dengan infeksi oleh bakteri grup ABHS (diagnosis berdasarkan titer antibody atau kultur swab tenggorok)
  5. Berhubungan dengan abnormalitas neurologi selama terjadi eksaserbasi seperti gerakan chorea, TIC)

Pemeriksaan Penunjang

Belum ada pemeriksaan untuk diagnosis pasti PANDAS, namun pada anak dengan gejala klinis yang diduga PANDAS perlu dilakukan pemeriksaan swab tenggorok untuk membuktikan adanya infeksi oleh bakteri GABHS.

Pemeriksaan titer antibodi terhadap streptokokus (ASTO) juga diperlukan mengingat kultur seringkali hasilnya negatip dan kesulitan jika hanya mengunakan tes laboratorium tunggal. Pada pemeriksaan dengan magnetic resonance imaging (MRI) ditemukan adanya pembesaran yang bermakna dari caudatus, putamen dan globus pallidus.

Penelitian dengan menggunakan PET (Positron Emission Tomography) scan menunjukkan terjadinya peningkatan metabolisme glukosa di korteks orbitofrontal, caudatus, thalamus, korteks prefrontal anterior dan singulat pada pasein dengan OCD.

Tatalaksana terapi

Pada episode akut PANDAS terapi terbaik adalah mengeradikasi kuman penyebab infeksi. Antibiotika yang merupakan pilihan terhadap bakteri GABHS adalah amoksisilin, penisilin, eritromisin, azithromisin dan sefalosporin.

Pengobatan simptomatik yang efektif diantaranya dengan menggunakan CBT (cognitive behavioral teraphy) dan obat golongan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) seperti fluoxetine, fluvoxamine, sertaline atau paroxetine). Obat harus dimulai dari dosis rendah dan ditingkatkan secara perlahan dimana bila gejala bertambah buruk dosis dapat diturunkan dan apabila akan menghentikan pengobatan maka tidak boleh dihentikan secara tiba tiba.

Pertimbangan imunoterapi dapat digunakan hanya pada kasus kasus dimana jelas gejala neuropsikiatri terkait dengan respon autoimun. Yang dimaksud dengan imunoterapi pada PANDAS adalah penggunaan IVIG, plasmaparesis dan kortikosteroid. Selain harus memastikan bahwa gejala sepenuhnya memenuhi kriteria PANDAS, diagnosis harus berdasarkan beberapa pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi disfungsi imunitas tubuh seperti: ASTO, titer ANA dan uji reaktivitas imun (ESR-Erythrocyte Sedimentation Rate) atau C-rective protein. Pemberian kortikosteroid masih kontroversi, ada yang melaporkan terjadi perbaikan yang signifikan dengan steroid, ada juga yang menyatakan terjadi perburukan.Keterbatasan penggunaan steroid disebabkan oleh beberapa hal diantaranya; tidak dapat digunakan untuk jangka waktu lama dan adanya efek rebound. Namun steroid sangat membantu untuk menegakkan diagnosis penyakit berbasis imun karena jika dengan pemberian steroid gejala membaik maka respon sterid dapat digunakan sebagai indicator yang baik dimana terapi berbasis imun akan sangat bermanfaat.

Pencegahan

Telah ada 2 uji klinis tentang antibiotika profilaksis untuk PANDAS, yang menunjukkan bahwa antibiotika efektif dalam mencegah infeksi streptokokus yang diharapkan dapat mengurangi angka kekambuhan PANDAS. Di masa yang akan datang pencegahan eksaserbasi PANDAS dengan pemberian antibiotika sebagai profilaksis terhadap infeksi streptokokus dapat menjadi harapan, namun masih diperlukan penelitian dengan sampel yang lebih besar dan metode yang lebih baik.

Referensi

  1. Swedo SE, Leckman JF, Rose NR. From research subgroup to clinical syndrome: Modifying the PANDAS criteria to describe PANS (Pediatric Acute-onset Neuropsychiatric Syndrome). Pediatr Therapeut 2012, 2:2.
  2. PANDAS: Identification and possible treatment. www.childadvocate.net/PANDAS_treatment.htm.
  3. Kurlan R, Kaplan EL. The pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal Infection (PANDAS) etiology for tics and obsessive-convulsive symptoms: hypothesis or entity? Practical considerations for the clinician. Pediatrics 2004: 113; 883.

Penulis :
dr. dewi Sutriani Mahalini, Sp.A

Cacar Air (Varisela) pada Anak

Apa itu cacar air?

Cacar Air atau yang memiliki nama lain sebagai (Varisela /Chiken Pox / cangkrangen (jawa)) adalah penyakit infeksi yang sangat menular disebabkan oleh virus varisela-zoster. Angka kejadian di negara kita belum pernah diteliti, tetapi di Amerika dikatakan kira-kira 3,1-3,5 juta kasus dilaporkan tiap tahun.

Bagaimana varisela itu bisa menular?

Varisela sangat mudah menular terutama melalui kontak langsung, melalui cairan pernapasan maupun kontak langsung pada kulit dan dapat terjadi walaupun jarang melalui kontak yang tidak langsung melalui udara.

Jangka waktu sejak penderita terinfeksi virus sampai timbul gejala sekitar 14 sampai 16 hari. Varisela dapat menyerang semua golongan umur termasuk bayi, 90 % kasus berumur 10 tahun dan terbanyak umur 5-9 tahun. Pasien dapat menularkan penyakit selama 24-48 jam sebelum lesi kulit timbul, sampai semua lesi timbul krusta/keropeng biasanya 7-8 hari. Seumur hidup seseorang hanya satu kali menderita varisela. Serangan kedua mungkin berupa penyebaran ke kulit berupa herpes zoster.

Bagaimanakah gejala varisela itu?

Setelah masa terinfeksi hingga timbulnya gejala, akan muncul gejala berupa nyeri kepala ringan, demam yang tidak begitu tinggi dan lemah badan, diikuti dengan timbulnya lesi kulit 24-36 jam kemudian. Ruam pertama muncul dalam bentuk erupsi macula yang dapat disertai dengan kemerahan. Ruam ini hanya timbul beberapa jam, terasa gatal, vesikel berisi cairan jernih dan menimbul dari dasar. Perubahan lesi makula (perubahan dari warna kulit yang berfariasi ukurannya) ke papul (penonjolan di atas kulit berdiameter <1cm) menjadi vesikel (lepuhan kecil berisi cairan yang berdiameter<0.5 cm) kemudian krusta, berlangsung dalam kurun waktu 6-8 jam.

Cacar air pada anak biasanya berlangsung ringan dan singkat. Bila menyerang dewasa sifatnya lebih berat dan dapat mengakibatkan penyakit yang serius serta fatal, terutama apabila menyerang pasien defisiensi imun (sistem imun yang kurang aktif dari biasanya)I, anak yang sedang mendapat pengobatan kortikosteroid atau terapi kemostatik (pada pasien-pasien kanker), tanpa bergantung kepada golongan umur.

Infeksi varisela yang berat juga dapat terjadi pada bayi baru lahir akibat varisela dari ibu hamil. Bayi yang terinfeksi selama masa kehamilan juga mempunyai resiko (0,8%-1,7%) untuk terjadinya herpes zoster, resiko akan meningkat apabila paparan terjadi pada kehamilan usia 25-36 minggu.

Bagaimana cara pengobatan varisela?

Pengobatan bersifat mengurangi gejala (simtomatik) dengan antipiretik dan analgesik, untuk menghilangkan rasa gatal dapat dengan kompres dingin,mandi secara teratur ataupun pemberian antihistamin. Lokal diberikan bedak yang ditambah dengan zat anti gatal (mentol, kamfora) untuk mencegah pecahnya vesikel secara dini serta menghilangkan rasa gatal. Jika timbul infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika berupa salap dan oral. Dapat pula diberikan obat-obat antivirus (asiklovir) untuk mencegah atau meringankan varisela, pemberian asiklovir minum menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan bila diberikan hanya pada kulit luar yang terkena.

Bagaimana cara mencegah terjadinya varisela?

Pencegahan yang dapat diberikan untuk varisela yaitu menghindari kontak langsung dengan penderita cacar air , memberikan vaksinasi yaitu vaksin varisela yang merupakan vaksin virus hidup yang telah dilemahkan. Vaksin virus hidup varisela-zoster yang dilemahkan terdapat dalam bentuk bubuk kering (lyophilized), suhu penyimpanan vaksin pada suhu 2OC-8OC. Menurut Jadwal Imunisasi 2011 vaksin varisela dapat diberikan mulai umur 1 tahun, dosis 0,5 mL secara subkutan, dosis tunggal. Pada anak usia ?13 tahun dianjurkan pemberian vaksin dua kali selang 1 bulan. Bila pasien memiliki kontak terhadap kasus varisela vaksin dapat diberikan dalam waktu 72 jam setelah penularan (dengan persyaratan kontak dipisah/tidak berhubungan). Bagi anak hanya diperlukan 1 dosis, sedang individu imunokompromais serta remaja (sama atau diatas 13 tahun) dan dewasa memerlukan 2 dosis, selang 1-2 bulan.

Siapakah yang tidak boleh divaksinasi varisela?

1. Orang yang pernah mengalami anafilaksis setelah mendapatkan satu dosis vaksinasi varisela sebelumnya

2. Orang yang telah mendapatkan vaksin hidup selama 4 minggu terakhir (misalkan MMR, campak ,batuk rejan dan BCG )

3. Orang yang mengalami gangguan kekebalan, misalnya :

  • Orang dengan HIV/AIDS
  • Orang yang mendapatkan pengobatan immunosupresif dosis tinggi, terapi rotgen atau cortikosterod
  • Orang yang menderita penyakit keganasan misalnya lymphoma, leukemia dan penyakit Hodgkin.

Dimanakah bisa mendapatkan vaksinasi varisela?

Vaksin varisela bisa didapatkan di fasilitas kesehatan terdekat (di tempat praktek spesialis anak atau Rumah sakit yang menyediakan vaksin varisela)

 

Referensi:
1. Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia, edisi keempat ,tahun 2011.
2. Buku ajar Infeksi tropis, Ilmu Kesehatan Anak IDAI
3. www.healt.NWS.gov.au/immunisation; Desember 2010

Penulis :
1. dr. Sang Ayu Putu Srimas Ambara Dewi
2. dr. I Made Gede Dwilingga Utama, Sp.A (K)
3. dr. IGAN Sugitha Adnyana Sp.A

KOMPLIKASI KEGEMUKAN (OBESITAS) PADA ANAK

Dahulu gemuk dianggap sehat, tetapi dengan berkembangnya ilmu kedokteran pendapat tersebut tidak dianut lagi. Mungkin orang tua yang dulunya bangga dengan anaknya super gemuk, sekarang akan menyesal kalau melihat betapa kompleksnya akibat obesitas tersebut.

Komplikasi kegemukan atau obesitas pada anak dapat terjadi mulai dari kepala sampai kaki diantaranya:

  •  Kapasitas otak

Untuk setiap pon berat yang berlebih pada tubuh, otak akan semakin mengecil. Itulah fakta yang diungkapkan para peneliti baru-baru ini. Semakin besar tubuh seseorang yang mengalami obesitas, semakin berkurang pula jaringan otak di kepalanya. Kebanyakan jaringan yang hilang adalah jaringan pada bagian depan dan temporal lobe yang berfungsi sebagai pembuat keputusan, menyimpan memori dan kegiatan kognitif lainnya yang ujung-ujungnya bisa memicu penyakit Alzheimer.

  • Saluran napas

Komplikasi obesitas lainnya pada anak adalah gangguan fungsi saluran napas yang dikenal dengan obstructive sleep apnea syndrome (OSAS). Gejalanya mulai dari mengorok sampai mengompol. Obstruksi saluran nafas intermiten di malam hari menyebabkan tidur gelisah.

  • Kulit leher dan pelipatan

Obesitas juga dapat menyebabkan kulit sering lecet karena gesekan, anak merasa gerah atau panas, sering disertai biang keringat, maupun jamur pada lipatan-lipatan kulit.

  • Jantung

Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut jantung Obesitas pada masa anak-anak yang terus berlanjut sampai dewasa dapat pula mengakibatkan antara lain hipertensi (tekanan darah tinggi) pada masa pubertas, penumpukan lemak dalam darah, penyakit jantung koroner, dan penyempitan pembuluh darah pada masa dewasa. Sekalipun tanpa tekanan darah yang tinggi, obesitas sendiri sudah dapat mengakibatkan kelemahan otot jantung atau cardiomyopathy, sehingga mengganggu daya pompa jantung.

  • Paru

Obesitas pada bayi berisiko terjadinya infeksi saluran pernafasan bagian bawah karena terbatasnya kapasitas paru-paru.

  • Ginjal

Anak yang mengalami obesitas, memiliki risikonya terkena diabetes dengan komplikasi sakit ginjal di kemudian hari.

  •  Genitalia

obesitas akan mengalami penurunan dan penyusutan sistem organ yang lebih cepat, termasuk juga masalah impotensi dan infertilitas dan hal-hal lainnya yang dikira orang tidak ada hubungannya langsung dengan obesitas.

  • Tulang Kaki

Pada anak obesitas cenderung berisiko mengalami gangguan tulang pada kaki yang disebabkan kelebihan berat badan, yaitu tergelincirnya tulang paha yang menimbulkan gejala nyeri panggul atau tergelincirnya lutut. Di samping itu dapat juga mengakibatkan kelainan pada tulang dan sendi seperti kaki pengkor ke arah dalam.

Disamping komplikasi obesitas pada semua anggota tubuh, obesitas juga mempengaruhi faktor kejiwaan pada anak yakni sering merasa kurang percaya diri, bahkan kalau anak berada pada masa remaja dan mengalami obesitas, biasanya menjadi pasif dan depresi, karena sering tidak dilibatkan pada kegiatan yang dilakukan oleh teman sebayanya. Gangguan  kejiwaan ini dapat sebagai penyebab obesitas menjadi lebih parah karena anak melampiaskan stres yang dialaminya ke makanan.

 

Penulis: dr. Wiradharma

dr. I G Lanang Sidiartha, SpA(K)

Diambil dari berbagai sumber.

Hand, foot and mouth diseases

Apakah Hand, foot and mouth diseases (HFMD) itu?

Hand, foot and mouth diseases, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang sering terjadi pada anak-anak. Gejala yang khas untuk penyakit ini adalah demam dan timbulnya rash atau bercak kemerahan dan berair pada telapak tangan, telapak kaki, dan mukosa mulut.

 

Apa gejala dan tanda dari hand foot and mouth diseases?

Gejala HFMD diawali dengan demam tinggi di atas 38 derajat Celsius, lemas, tidak ada nafsu makan, aktifitas menurun, kemudian dalam 1 atau 2 hari akan timbul bintik-bintik merah kecil (2-3 mm) yang akan cepat berubah menjadi bintik merah berair (vesikel), yang tampak pada telapak tangan, telapak kaki, dan rongga mulut. Gusi, lidah dan pipi bagian dalam adalah yang paling sering terkena. Lesi pada kaki juga dapat terlihat pada tumit bahkan dapat terlihat pada pantat, meskipun jarang. Lesi yang terjadi pada rongga mulut, sering berhubungan dengan rasa nyeri saat menelan dan penurunan nafsu makan. Derajat penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai dapat menimbulkan komplikasi yaitu edema paru, dan radang otak.

                                                  

 

 

 

                                                              

 

Apakah penyebab HFMD?

Penyebab HFMD adalah beberapa golongan virus enterovirus yaitu virus Coxsackie A-16, dan enterovirus 71. Pada sebuah penelitian epidemiologi di Taiwan tahun 1998-2005, didapatkan data bahwa HFMD terbanyak terjadi pada saat musim panas, kejadiannya akan semakin berkurang dengan bertambahnya umur, lebih banyak terjadi pada anak berumur kurang dari sama dengan 4 tahun. Penyebab terbanyak adalah enterovirus 71, bahkan dapat menyebabkan komplikasi yang serius yaitu edema paru, perdarahan paru dan encephalitis.

 

Bagaimana cara penyebaran HFMD?

HFMD menyebar dari orang satu ke orang lain dengan cara  kontak langsung dengan virus penyebab. Virus ini paling banyak ditemukan pada hidung, tenggorokan, pada bercak-bercak berair atau pada feses penderita. Penderita akan sangat infeksius pada minggu-minggu pertama. Virus ini akan tetap berada di saluran napas sampai beberapa minggu bahkan bulan. Hal ini memungkinkan terjadinya transmisi dari orang dewasa yang telah sembuh kepada anak yang imunitasnya lebih rendah.

Berapa lamanya masa inkubasi HFMD?

HFMD adalah penyakit menular dari orang ke orang, tidak dapat ditularkan dari binatang kepada manusia. Menular melalui sekresi oral maupun feses. Masa inkubasi adalah antara 4 sampai 6 hari sejak terkena sampai tampak manifestasi klinis.

 

Bagaimana pengobatan HFMD?

Tidak terdapat pengobatan spesifik terhadap HFMD.  Penyakit ini merupakan “self limited diseases”, artinya dapat sembuh dengan sendirinya. Pengobatan HFMD adalah simtomatik dan suportif. Simtomatik artinya ditujukan pada gejala saja yaitu demam dan nyeri tenggorokan. Demam dan nyeri dapat diberikan golongan paracetamol ataupun ibuprofen. Terapi suportif adalah penderita HFMD harus minum air dalam jumlah cukup untuk mencegah terjadinya dehidrasi akibat intake yang berkurang karena nyeri menelan. Penderita juga harus cukup beristirahat.

 

Bagaimana prognosis HFMD?

Prognosis HFMD adalah baik. Biasanya dalam waktu 7-10 hari gejala akan membaik. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah radang selaput otak (meningitis aseptik), radang otak (encephalitis), tetapi hal ini sangat jarang terjadi.

 

Dapatkah HFMD dicegah?

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah HFMD. Risiko untuk tertular dapat dikurangi dengan cara mencuci tangan setelah kontak dengan penderita atau benda-benda yang mungkin terkena virus penyebab HFMD, menghindari kontak erat dengan penderita HFMD.

 

 

dr. Putu Ayu Widyanti

dr. I Made Gede Dwilingga Utama, SpA(K)

Dari berbagai sumber