Konstipasi Pada Anak

Konstipasi pada anak merupakan masalah yang sering dihadapi oleh orang tua di seluruh dunia. Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan evakuasi tinja, yang ditandai oleh beberapa aspek, yaitu berkurangnya frekuensi buang air besar (defekasi) dari biasanya, umumnya dua kali defekasi atau kurang dalam seminggu, tinja yang keras dari sebelumnya, dan teraba masa tinja (skibala) dan nyeri yang timbul saat defekasi.

Gejala Konstipasi
Gejala yang muncul bila anak mengalami konstipasi misalnya sakit perut, BAB mungkin disertai rasa sakit, turun atau hilangnya nafsu makan, rewel, mual atau muntah, turunnya berat badan dan noda feses di celana dalam anak yang menandakan banyaknya feses yang tertahan di rektum (bagian usus besar terdekat dengan anus). Jika anak mengalami konstipasi yang cukup berat, ia dapat kehilangan kemampuan merasakan kebutuhan ke toilet untuk BAB sehingga menyebabkan anak BAB di celananya. Hal ini disebut encopresis atau fecal incontinence. Mengedan untuk mengeluarkan feses yang keras dapat menyebabkan robekan kecil pada lapisan mukosa anus (anal fissure) dan perdarahan.

Penyebab Konstipasi
Penyebab konstipasi pada anak dapat dibagi menjadi organik dan fungsional. Hampir 95% konstipasi pada anak disebabkan kelainan fungsional dan hanya 5% oleh kelainan organik. Konstipasi fungsional tidak disertai penyebab adanya kelainan pada organ pencernaan karena kelainan anatomis bawaan, penyakit atau obat. Konstipasi fungsional terkait dengan kurangnya asupan serat, kurangnya minum, asupan susu yang berlebihan (susu mengandung rendah serat) , kurang aktivitas fisik, stress dan perubahan aktivitas rutin, ketersediaan toilet dan masalah psikososial. Konstipasi fungsional umumnya terjadi pada umur lebih dari 3 tahun. Frekuensi defekasi pada anak-anak bervariasi menurut umur. Bayi yang minum ASI lebih sering defekasi dibandingkan bayi yang minum susu formula.
Konstipasi fungsional pada anak berhubungan dengan kebiasaan anak menahan defekasi akibat pengalaman nyeri pada defekasi sebelumnya. Pengalaman nyeri saat defekasi ini menimbulkan penahanan tinja ketika ada hasrat untuk defekasi. Penyebab lain anak menahan rasa ingin buang air besar tersebut karena sedang sibuk bermain atau melakukan sesuatu lebih menarik. Kebiasaan menahan tinja yang berulang akan meregangkan rektum dan kemudian kolon sigmoid yang menampung tinja berikutnya. Tinja yang berada di kolon akan terus mengalami penyerapan air dan elektrolit dan membentuk skibala. Seluruh proses akan berulang dengan sendirinya, yaitu tinja yang keras dan besar menjadi lebih sulit dikeluarkan melalui kanal anus, menimbulkan rasa sakit dan kemudian retensi tinja selanjutnya. Konstipasi organik bisa disebabkan karena kelainan anatomik, kelainan endokrin, metabolik dan imunologik, kelainan neurologi , kelainan neuromuskular, kelainan otot dan obat-obatan.

Tata Laksana Konstipasi
Anak yang mengalami konstipasi harus dicari penyebab konstipasi apakah fungsional atau organik. Evakuasi tinja bila terjadi skibala yang bermakna, pemberian obat untuk menjaga kekerapan defekasi minimal sekali sehari, modifikasi perilaku seperti banyak minum air putih, diet tinggi serat, melatih kebiasaan BAB yang baik. Kadang anak mengalami kekhawatiran jika harus menggunakan toilet di sekolah. Jika orang tua mencurigai adanya masalah tersebut, orang tua hendaknya membicarakan masalah tersebut dengan anak maupun pihak sekolah. Konsultasi psikiatrik bila penyebabnya psikogenik, Pada bayi di bawah usia satu tahun, kemungkinan masalah organik yang mungkin menyebabkan konstipasi harus diteliti dengan lebih cermat, dan segera berkonsultasi dengan dokter terutama apabila konstipasi disertai gejala lain seperti keluarnya feses pertama lebih dari 24 jam setelah lahir, gagal tumbuh, demam, diare yang diserai darah, muntah kehijauan, atau terabanya benjolan di perut, anus yang tidak tampak normal baik bentuk maupun posisinya.

TIRTA YATRA PURA LUHUR PUCAK BUKIT SANGKUR

IMG_3990
Minggu, 5 Juli 2015 Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak melaksanakan kegiatan rutin setiap tahun yaitu “ Tirta Yatra “. Saat ini “PURA LUHUR PUCAK BUKIT SANGKUR” menjadi tempat pilihan untuk melaksanakan kegiatan sembahyang bersama.
IMG_3848

IMG_3812

IMG_3737

IMG_3736
Pura Luhur Pucak Bukit Sangkur terletak didaerah baturiti kabupaten Tabanan. Pura ini merupakan tempat yang sangat tepat digunakan untuk melakukan tapa semedi. Berdasarkan sejarah yang ada, pura ini dikenal sebagai pertapaan Rsi Segening. Berdasarakan informasi yang diperoleh redaksi, banyak umat yang berbondong-bondong datang untuk melakukan semedi di pura ini. Dipercaya bahwa apabila umat melakukan pemujaan dengan tulus ikhlas, maka umat tersebut akan diberkati dengan kharisma kepemimpinan (taksu kepemimpinan).
IMG_3720

IMG_4013

IMG_3871

IMG_3757
Tirta yatra kali ini diikuti oleh supervisor, residen, perawat, bidan serta staf bagian/SMF ilmu kesehatan anak. Kegiatan ini diketuai oleh dr. IGN Suwarba, SpA(K) dan sebanyak 80 orang bersama-sama melantumkan bait-bait Puja Tri Sandya dengan penuh hikmat.
IMG_3913

IMG_3768

IMG_3770
Jam 07.00 Wita semua umat sudah berkumpul didepan RSUP Sanglah. Tampak wajah-wajah bahagia dan suasana keakraban yang sangat kental diantara umat yang hadir. Acara ini sengaja dilakukan setiap tahun dengan tujuan untuk lebih meningkatkan hubungan TRI HITA KARANA yang harmonis (hubungan Manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta), sehingga kelak akan terbentuk umat yang penuh dengan dedikasi ilmu dan rohani yang mumpuni dalam pelayanan, khususnya di bagian Ilmu Kesehatan Anak.
IMG_3759

IMG_3663

IMG_3662
Jarak tempuh pura luhur pucak bukit sangkur dari denpasar kurang lebih 50 km. setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di lokasi tujuan. Jalan menuju ke areal pura cukup kecil, bus yang kami tumpangi beberapa kali berhenti karena tidak bisa berpapasan dengan motor didepan. Tampak perkebunan penduduk membentang di sisi kiri dan kanan jalan, wah…. Pemandangan yang sangat menarik. Mereka menanam bermacam-macam sayur-sayuran seperti kol, kentang, wortel dan brokoli. Setelah sekitar 20 menit, akhirnya kami sampai di parkiran pura. Tampak suasana hutan yang hening dan sejuk, rasanya jiwa ini serasa berada di negeri kahyangan yang sangat damai.
IMG_3685

IMG_4009

IMG_4003

IMG_3999
Suasana religius kian bertambah tatkala umat melakukan perjalanan ke pura madya dan utama. Umat berjalan menelusuri jalan setapak diantara pohon-pohon rindang yang tersusun dengan sangat rapi. Ada pemandangan menarik yang umat jumpai di lokasi pura ini, ternyata umat ditemani oleh segerombolan kera yang terkadang usil mengambil sesajen dan bunga yang ada.
IMG_3837

IMG_3808
Jam 13.00 wita, acara persembahyangan sudah selesai dilaksanakan. Para umat kemudian berkumpul di jaba tengah untuk santap siang dan berfoto bersama.
IMG_3952

IMG_3937

IMG_3929

IMG_3903

IMG_3877

IMG_3910

IMG_3826

IMG_3724

IMG_3711

IMG_3710

IMG_3719
Sungguh suasana yang penuh dengan aroma kekeluargaan yang sangat kental. Para umat saling bercengkrama disertai dengan riuh tawa yang lepas. Suasana seperti ini sangat sulit untuk kita jalin andai saja kita tidak pernah tirta yatra bersama. Semoga acara ini akan selalu terbina dari generasi ke generasi yang ada. Sehingga, kita semua selalu kompak dan bersahaja disetiap waktu.
BRAVO PEDIATRI UDAYANA…………. (Redaksi)

Galungan, Kuningan dan Idul Fitri : Harmonis dalam Kemenangan Bersama!

Kerukunan Umat Beragama dalam Langit Merah Putih Courtesy Foto : inpasonline.com

Kerukunan Umat Beragama dalam Langit Merah Putih
Courtesy Foto : http://inpasonline.com/

Minggu kedua di bulan Juli ini terasa amat berbeda. Suasana hari raya kental terasa. Bagaimana tidak? Pada hari Rabu, 15 Juli 2015 ini seluruh umat Hindu akan merayakan Hari Raya Galungan dan pada minggu ini akan ditutup dengan perayaan Hari Raya Idul FItri 1436 H bagi umat Islam tepatnya pada tanggal 17-18 Juli 2015.

Hari Raya Galungan adalah Hari Raya Umat Hindu yang dirayakan setiap 6 bulan sekali, sesuai dengan kalender penanggalan Bali yaitu pada hari Budha Kliwon Dungulan. Kata Galungan dalam bahasa jawa Kuno berarti menang, dan makna dari perayaan Hari Raya Galungan ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma atau kebajikan melawan adharma dan menghaturkan rasa terima kasih dan angayubagia ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi /Tuhan yang maha Esa atas terciptanya dunia serta segala isinya dan atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Sepuluh hari setelah Galungan tepatnya pada Saniscara (Sabtu) KLiwon Wuku Kuningan akan dirayakan Hari Raya Kuningan yang bermakna introspeksi diri agar terhindar dari mara bahaya. (Sumber: Tribunews.com) Sedangkan Idul Fitri secara etimologi berarti Hari Raya Kesucian atau bisa juga diartikan sebagai Hari Kemenangan umat Islam. Kemenangan disini adalah bentuk dari kemenangan dalam menggapai kesucian atau perwujudan dari kembali kepada keadaan fitrah (Fitri). (Sumber: www.nu.or.id)

Berlangsungnya hari raya ini pada hari yang berdekatan hendaknya dapat menjadikan para umat beragama semakin solid. Semakin berbeda, maka semakin kuat kita. Perbedaan bukanlah penghalang bagi umat untuk hidup berdampingan. Dalam makna hari raya yang hampir serupa kini lah saatnya merayakan kemenangan bersama. Merayakan bersama dengan harmonis niscaya akan selalu dalam lindungan Nya. Indahnya kebersamaan merupakan suatu kemenangan tersendiri bagi seluruh umat.

Mengutip sebuah sloka dari Reg Weda “Ekam Sat Viprah Bahuda vadanti”, yang artinya Tuhan hanya satu namun para arif bijaksana menyebutnya dengan banyak nama. Sang Hyang Widhi, Allah SWT, Tuhan Jesus Kristus, maupun Buddha adalah satu. Dalam suasana bahagia ini perkenankan tim redaksi menyampaikan :

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan Courtesy : Website Dinas Pariwisata Kabupaten Badung

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan
Courtesy Foto : Website Dinas Pariwisata Kabupaten Badung

Selamat Hari Raya Idul Fitri Courtesy Foto: Warta Sumedang

Selamat Hari Raya Idul Fitri
Courtesy Foto: Warta Sumedang

Semoga Seluruh Umat Senantiasa Berbahagia. Salam Hangat Selalu. (Kirana Budhiarta)