UJIAN DOKTER SPESIALIS ANAK 14 JULI 2014

1

Program Studi  Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana melaksanakan ujian dokter spesialis anak terhadap salah satu peserta didik PPDS-1 yang telah menyelesaikan semua tahapan dalam proses pendidikan dokter spesialis. Peserta didik yang akan menjalani evaluasi tersebut adalah : dr. Made Ayu Krishna Levina, MBiomed.

2 3 4

6 5 7

Susunan tim penguji evaluasi  ini diketuai oleh Dr.dr. IGA Trisna Windiani, Sp.A (K), sedangkan sebagai anggota penguji terdiri dari : dr. I ketut Suarta, Sp.A (K), dr. I Made Arimbawa, Sp.A(K), dr. I Gusti Ngurah Sanjaya Putra, SH, Sp.A(K) dan dr. I Made Gede Dwi Lingga Utama, Sp.A(K). Sebagai notulen adalah dr. I Wayan Gustawan, M.Sc, Sp.A dan yang mempersiapkan pasien adalah dr. Dyah Kanya Wati, Sp.A(K).

9

Peserta ujian  mempresentasikan dua kasus yaitu ujian kasus panjang (long case) dan ujian kasus pendek (short case). Peserta diberikan waktu 20 menit untuk mempresentasikan kasus ujian panjang, kemudian penguji diberikan waktu 5 menit untuk melihat pasien dan diikuti dengan diskusi dengan waktu 50 menit. Kasus ujian pendek, penguji mengamati peserta ujian untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien selama 10 menit, kemudian peserta ujian mempresentasikan kasus selama 5 menit dan dilanjutkan dengan diskusi selama 25 menit.

8

dr. Made Ayu Krishna Levina, MBiomed mempresentasikan kasus panjang dengan judul “ Chronic liver Disease et causa Suspek Ekstrahepatik et causa Suspek Atresia Bilier dd Intrahepatik et causa Suspek Infeksi TORCH + Hospital Acquired Pneumonia + Rhinitis Akut (membaik) + Gizi Kurang” dan kasus pendek dengan judul “Diare Akut Dehidrasi Ringan-Sedang + Gizi Kurang”. Pasien untuk ujian kasus panjang diberikan tanggal 7 Juli 2014 sedangkan pasien untuk kasus pendek diberikan segera sebelum ujian.

Collage

Evaluasi dokter spesialis anak ini dimulai pukul 09.00 WITA dan berakhir pukul 12.00 WITA, kemudian tim penguji melakukan rapat selama 10 menit untuk menentukan kelulusan peserta ujian. Pukul 12.30 WITA ketua panitia mengumumkan hasil evaluasi kandidat dengan nilai A serta dihadiri oleh semua supervisor dan residen.

13

Selamat kepada dr. Made Ayu Krishna Levina, MBiomed dan redaksi mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah turut berpartisipasi dalam ujian dokter spesialis kali ini. (Redaksi)

 

 

DIARE PADA ANAK

Diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara berkembang. WHO memperkirakan 4 milyar kasus terjadi didunia pada tahun 2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal. Di Indonesia, diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat utama. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan menimbulkan banyak kematian terutama pada bayi dan balita, serta sering menimbulkan kejadian luarbiasa (KLB).

Penyakit diare bila tidak diatasi lebih lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian. Data terakhir dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare menjadi penyakit pembunuh kedua bayi dibawah lima tahun (balita) di Indonesia setelah radang paru atau pneumonia

Apakah itu Diare ?

Diare menurut WHO (1999) adalah bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya atau lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsistensi tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.

Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan.

Apa faktor risiko terjadinya diare

  1. Faktor lingkungan: sarana air bersih (SAB), sanitasi, jamban, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kualitas bakterologis air, dan kondisi rumah
  2. Faktor Ibu: Umur, tingkat pendidikan, status kerja, perilaku, hygienitas.
  3. Faktor anak: usia, jenis kelamin, riwayat ASI eksklusif, riwayat imunisasi, status gizi, pemberian vitamin A, penyakit lain.
  4. Faktor sosial ekonomi.

Apa Penyebab Diare

Penyebab diare akut paling umum adalah infeksi virus. Penyebab lain termasuk infeksi bakteri, efeksamping antibiotik, dan infeksi yang tidak berhubungan dengan system pencernaan.

Diare akibat infeksi virus biasanya dimulai 12 jam sampai 4 hari setelah paparan, disertai gejala muntah, dan berhenti dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Tidak ada terapi khusus untuk diare akibat virus. Penanganan untuk diare akibat virus yaitu: cairan rehidrasi oral, diet, dan istirahat. Diare akibat infeksi bakteri kadang sulit untuk dibedakan dari infeksi virus. Gejala yang khas antara lain demam yang tinggi terus-menerus (lebih tinggi dari 40ºC) dan diare disertai darah ataupun lendir.

Bagaimana mengetahui bahwa anak terkena dehidrasi

Dehidrasi ringan sering terjadi pada anak-anak yang menderita diare. Tanda dan gejala dari dehidrasi ringan termasuk mulut sedikit kering, rasa haus, dan penurunan produksi urin  (satu popok basah atau kekosongan dalam enam  jam). Gejala umum dari dehidrasi sedang atau berat termasuk nyata menurun buang air kecil (kurang dari satu popok basah atau tidak buang air kecil dalam enam jam), kurangnya air mata ketika menangis, mulut kering, dan mata cekung.

Bagaimana Penatalaksanaan diare di rumah?

Anak-anak yang tidak mengalami dehidrasi dapat terus makan dan bayi yang sedang menyusui dapat terus menyusui kecuali ada instruksi lain dari dokter. Anak dengan dehidrasi perlu mendapat penggantian cairan yang hilang (Upaya rehidrasi oral)

Makanan yang direkomendasikan meliputi kombinasi dari karbohidrat kompleks (beras, gandum, kentang, roti), daging tanpa lemak, yoghurt, buah-buahan, dan sayuran. Makanan tinggi lemak yang lebih sulit untuk dicerna, buah apel, pir, dan jus ceri, minuman berenergi dan minuman lain dengan kadar gula tinggi harus dihindari.

Upaya Rehidrasi Oral (URO) merupakan alternatif yang lebih aman, lebih murah, dan lebih mudah disbanding penggunaan cairan infus. Larutan rehidrasi oral (oralit) mengandung glukosa (gula) dan elektrolit (natrium, kalium, klorida) yang hilang pada anak dengan muntah dan diare. WHO merekomendasikan penggunaan oralit hipoosmolar, selain dengan oralit URO juga bisa menggunakan bahan dari rumah tangga seperti air tajin. URO tidak menyembuhkan diare, tetapi membantu untuk mengatasi dehidrasi yang sering terjadi. Gelatin, teh, air beras, jus buah, dan minuman lain tidak disarankan untuk digunakan sebagai cairan URO pada anak dengan diare.

Obat antibiotik atau agen anti-diare umumnya tidak diperlukan dan dapat berbahaya bagi bayi atau anak-anak dengan diare. Antibiotik digunakan pada kasus-kasus infeksi bakteri jika penyebab spesifik diare telah diketahui atau diduga kuat. Obat anti diare tidak dianjurkan untuk bayi atau anak-anak, karena manfaatnya tidak lebih besar daripada risiko.

Bagaimana mencegah diare?

Pencegahan diare adalah hal yang paling penting dalam menurunkan angka diare pada anak. Cara yang paling penting untuk mencegah diare adalah dengan menghindari kontak dengan agen infeksi penyebab diare..

Cara pencegahan diare dapat dilihat dari 2 sisi yaitu :

  1. Mencegah penyebaran kuman penyebab diare meliputi :
    1. Pemberian ASI yang benar
    2. Memperhatikan cara menyiapkan dan menyimpan makanan pendamping ASI
    3. Selalu menggunakan air bersih
    4. Membiasakan diri selalu mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum makan
    5. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota keluarga
    6. Membuang tinja bayi yang benar
  2. Menjaga daya tahan tubuh anak
    1. Memberikan ASI paling tidak sampai umur 2 tahun
    2. Menjaga nilai gizi makanan pendamping ASI dan memberikan makanan dalam jumlah yang cukup untuk meningkatkan status gizi anak
    3. Imunisasi rotavirus yang diberikan sebanyak 3 kali, yaitu: usia 2, 4 dan 6 bulan
    4. Imunisasi campak yang diberikan 2 kali, yaitu: umur 9 bulan dan 6 tahun.

 

(Redaksi)

Dari berbagai sumber.

Pemasangan Infus Vena Umbilikalis

PENDAHULUAN

Angka kejadian phlebitis di rumah sakit terutama yang terjadi pada pemasangan vena kateter pada anak sampai saat ini masih tinggi. Terkait dengan hal tersebut khususnya pada pasien dengan bayi baru lahir pemberian cairan parenteral lebih efektif diberikan menggunakan infus melalui vena umbilikalis. Selain vena besar, vena umbilikal juga sangat mudah dicari karena hanya satu-satunya pembuluh darah vena di umbilikal sehingga hanya membutuhkan waktu yang relatif efisien.

 

VENA UMBILIKALIS

Venaumbilikalis merupakan satu-satunya vena di umbilikius, relatif besar dengan diameter 4-5 mm, panjang 2-3 cm dan berdinding tipis. Dari umbilikus,vena berjalan ke arah kepala, sedikit ke kanan dan memasuki cabang sinistravenaportal setelah memberikan beberapa cabang kecil di dalam hepar.

 

INDIKASI PEMBERIAN

  1. Transfusi tukar
  2. Monitoring tekananvena sentral (Central VenousPressure/CVP)
  3. Pemberian  cairan  intravena,  akses  cepat  pada  keadaan  darurat  (saat  resusitasi),  pemberian produk darah atau obat-obatan.

 

KONTRAINDIKASI

  1. Terdapat gangguan vaskuler di daerah panggul atau ekstremitas bawah
  2. Enterokolitis nekrotikans,kecuali pada keadaan darurat dan akses lain tidak memungkinkan
  3. Peritonitis
  4. Omfalitis dan omfalokel
  5. Perdarahan atau kecenderungan thrombosis merupakan kontra indikasi relatif.

 

PERALATAN

  1. Handuk steril untuk mengeringkan tangan dan lengan bawah
  2. Gaun operasi dan sarung tangan
  3. Duk lubang ditengah (sebaiknya transparan, sehingga bisa terlihat kalau ada komplikasi, seperti pucat pada daerah panggul dan ekstrimitas)
  4. Kateter umbilika lsinglelumen, radioopak, diamete rkecil(Fr3,5 untuk berat badan < 1200g dan Fr5 untuk berat badan >1200g) untuk meminimalkan jumlah darah yang harus dikeluarkan saat membersihkan kateter sebelum pengambilan sampel. Ujung kateter harus lembut dan membulat, dan bahan yang tidak trombogenik
  5. Threeway stop cockdengan luer lock
  6. Spuit
  7. Cairan NaCl 0,9%- heparin1Ui/cc (0,5N saline)
  8. Komuntukanti septic (betadin)
  9. Set pemasangan arteri umbilikal yang terdiri dari : 1 buah dukklem, 2 buah pinset anatomis dengan ujung runcing (pinsetiris), 1 buah gunting benang, 2 buah klemarteri bengkok, 1 buah needle holder dan 1 buah scalpel no 11 dengan gagang
  10. Tali katun dan Benang silkno2/0 at3/0 dengan jarum round body
  11. Plester
  12. Kasa

 

TEKNIK PEMASANGAN

1. Ukur panjang kateteryangakan di masukkan, terdapat beberapa cara yaitu:

–       Untuk Venaumbilikalis Mengukur jarak antara umbilikus ke prose susxyphoideus, ditambah dengan panjang sisa umbilikal.

–       Untuk Arteri umbilikalis  :Mengukur jarak antara umbilikus ke acromion, ditambah dengan panjang sisa umbilikal.

–       Mengukur dengan rumus :(1,5x BB) + 5,5cmatau 1/2{(BB x3)+9 cm}+1

2. Lakukan persiapan

–       Persiapan penolong. Cuci tangan steril kemudian pasangsarung tangan steril.

–       Persiapan alat. Susun semua alat yang diperlukan di atas meja steril. Siapkan cairan NaCl-heparin dalam spuit 10cc. Pasang threewaystopcock ke kateter umbilikal, sambungkan dengan spuit dan isi dengan NaCl-heparin, kemudian putar stopcock ke posisi off kearah kateter. Hati-hati jangan sampai ada udara.

–       Persiapan pasien. Ikat kedua kaki bayi dengan popok kemudian plester ketempat tidur atau tahan dengan menggunakan bantal pasir. Tutup alat kelamin bayi dengan kain untuk menghindar ikencing bayi mengotori lapangan tindakan. Pegang umbilikal dengan kasa betadin atau klem (ingat umbilikal belum steril) dan tarik lembut secara vertikal. Lakukan desinfeksi dengan cairan anti septic (povidin dll.) sebanyak 3 kali mulai dari bagian tengah dan teruskan dengan gerakan melingkar ke bagian luar (minimal radius 5cm dari umbilikal) setelah itu bersihkan umbilikal, dan pasang duk lubang di atas umbilikal.

3. Ikat umbilikal dan potong datar dengan scalpel.

4. Identifikasi vena umbilikal. Buang semua bekuan darah yang terdapat dalam vena dengan pinsetiris. Pasang kateter dengan pinsetiris dan masukkan dengan lembut sampai ukuran yang telah ditentukan. Jika terdapat tahanan pada saat memasukkan kateter, jangan di paksa, tarik±4-5cm, kemudian masukkan kembali sambil diputar pelan searah jarum jam. Kalau masih ada tahanan, bisa dicoba memasukkan kateter lain di bawah kateter pertama dan masukan dengan lembut, biasanya kateter kedua akan langsung memasuki duktus venosus.

5. Target pemasangan apabila dilakukan fotorontgen:

–       Vena umbilikalis  setinggi diafragma (vertebrathorakal IX-X)

–       Arteri umbilikalis      setinggi vertebra thorakalVI-IX

 

YANG PERLU DIPERHATIKAN

  1. Jangan  biarkan  kateter  dalam  keadaan  terbuka.  Tekanan  negatif  dari  intra  abdominal  bisa menarik udara dan menyebabkan emboli udara.
  2. Untuk pemberian cairan, kateter harus berada di dalam vena cava, tepat di bawah atrium kanan, tidak boleh berada di dalam vena porta.
  3. Untuk resusitasi, UVC dipasang dangkal, hanya sedikit dibawah kulit, sampai ada aliran darah bebas (free-flow) saat ditarik dengan spuit.
  4. Kateter umbilikal harus dilepas bila sudah tidak dibutuhkan lagi atau terjadi malposisi/terlepas dari posisi awal.
  5. Durasi pemasangan katetervena umbilikal dapatdipertahankan selama14 hari.

KOMPLIKASI
a. Perdarahan, infeksi
b. Enterokolitis nekrotikans
c. Perforasi kolon atau peritoneum
d. Hipertensi portal dan nekrosis hepar.

KESIMPULAN
Pemasangan kateterisasi vena umbilikus merupakan tindakan yang relatif efisien dalam
terapi pemberian cairan karena langsung di vena besar dalam tubuh, akan tetapi hanya bisa
dilakukan pada bayi yang baru lahir saja, karena tali pusat akan layu setelah 24 jam. Tindakan relatif
mudah akan tetapi harus hati-hati dan selalu memperhatikan prinsip sterilisasi mengingat komplikasi
yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Grady NPO, Alexander M, Burns LA, Dellinger P, Garland J, Heard SO, et al. Guidelines for
Prevention of Intravascular Catheter-Related Infections, 2011. Centers for Disease Control and
Prevention. 2011:1-83.
2. Cardenas G, Finelli M, Harris C, Jonas D, Martins G, Steinmass M, et al. Central Access: Umbilical
Artery and Vein Cannulation. Clinical Best Practice Guideline. 2008:1-36.
3. O-Hara MB, Buzzard CJ, Reubens L, McDermott MP, DDiGrazio W, D’Angio CT. A Randomized
Trial Comparing Long-term and Short-term Use of Umbilical Venous Catheters in Premature
Infants with Birth Weights of Less Than 1251 Grams. Pediatrics. 2006;118(1):25-35.