Selamat Hari Natal 2012

natal copy

Evaluasi Nasional Residen 17 Desember 2012

Tiga peserta didik Program Studi Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana menjalani Evaluasi Nasional yang merupakan tahap akhir dari suatu proses panjang dalam mengikuti pendidikan di Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah. Evaluasi Nasional ini tentunya dapat dijalankan oleh semua peserta didik setelah memenuhi ketentuan-ketentuan yang sudah disyaratkan oleh kolegium Ilmu Kesehatan Anak.

Senin, 17 desember 2012. setelah melewati tahapan demi tahapan dalam mengikuti kurikulum pendidikan PPDS IKA Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, 3 orang peserta didik Program Studi Ilmu Kesehatan Anak yaitu: dr. Imanuel Yulius Malino, Msc, dr. Panji Tanu, dr. Franky Luhulima, Msc menjalani Evaluasi Nasional. Evaluasi Nasional merupakan tahap akhir pendidikan di Program Studi IKA setelah dinyatakan lulus ujian local.

IMG_8795x

Susunan panitia Evaluasi Nasional kali ini diketuai oleh dr. I komang Kari, SpA(K) dengan anggota tim penguji: dr. Siti Nurul Hidayati, M.Kes, SpA(K) dari PS IKA FK UNAIR Surabaya, dr. Renny Suwarniaty, SpA(K) dari PS IKA UNIBRAW Malang, dr. I Made Kardana, SpA(K), dr. I made Gede Dwi Lingga Utama, SpA(K) sedangkan yang bertindak sebagai notulen dr. Ayu Setiorini Mestika Mayangsari, MSc, SpA dan yang menyiapkan pasien ujian dr. I Nyoman Budi Hartawan MSc, SpA. Acara diawali dengan sambutan Kepala Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar dr. BNP. Arhana, SpA(K) yang sekaligus menyampaikan profil masing-masing kandidat. Selanjutnya acara dipimpin ketua tim penguji dengan didahului pembacaan tata tertib evaluasi nasional.

Dalam pelaksanaan Evaluasi Nasional masing-masing kandidat menyampaikan presentasi 2 kasus yaitu ujian kasus panjang dan ujian kasus pendek. Presentasi kasus panjang oleh kandidat dilakukan dalam waktu 20 menit yang diikuti dengan diskusi. Masing-masing penguji mempunyai kesempatan bertanya selama 10 menit. Kasus pendek yang diberikan saat itu juga dimana kandidat melakukan pemeriksaan pasien yang dihadiri para penguji. Diskusi kasus pendek berlangsung selama 25 menit, dimana masing-masing penguji mengajukan pertanyaan selama 5 menit.

IMG_8574

IMG_8523

IMG_8554

Kandidat yang pertama melakukan presentasi kasus panjang adalah dr. Franky Luhulima, MSc dengan judul “Bayi kurang bulan dan berat lahir sangat rendah (sesuai masa kehamilan) dan kolestasis intrahepatal et causa sepsis” sedangkan kasus pendeknya “Diare akut tanpa dehidrasi”. Kandidat ke 2 dr. Imanuel Yulius Malino, MSc dengan kasus panjang “Leukemi mieloblastik kronik dengan gizi baik” dan kasus pendek “Demam berdarah dengue”. Kandidat terakhir dr. Panji Tanu dengan kasus panjang “Meningitis bakteri dan status epileptikus dan suspek hidrosefalus disertai anemi hipokromik mikrositer dan gizi baik” sedangkan kasus pendeknya “Bayi cukup bulan (sesuai masa kehamilan) dan vigorous baby disertai ikterus neonatorum”.

IMG_8820

IMG_8830

IMG_8851

Setelah sesi tanya jawab selesai pada pukul 13.30 wita, tim penguji mengadakan rapat lebih kurang selama 10 menit. Pada pukul 13.40 wita hasil Evaluasi Nasional terhadap ke 3 peserta didik diumumkan oleh ketua tim penguji yang dihadiri oleh para supervisor dan seluruh residen dengan hasil ke 3 kandidat mendapatkan nilai A. Setelah memberi ucapan selamat acara Evaluasi Nasional ini diakhiri dengan makan siang bersama.

IMG_8453

IMG_8767

SELAMAT kepada dr. Franky Luhulima, MSc, dr. Imanuel Yulius Malino, MSc dan dr. Panji Tanu yang telah sukses meraih gelar Dokter Spesialis Anak. (PS IKA)

Seleksi Calon Residen Periode Februari 2013

Seleksi calon residen pendidikan dokter spesialis semester genap periode Februari 2013 diikuti 228 calon peserta dari seluruh program studi spesialis FK UNUD.

DSC01960

Pasca Sarjana UNUD kembali melaksanakan seleksi penerimaan calon peserta didik dari semua jurusan pasca sarjana yang ada di lingkungan Universitas Udayana untuk semester genap periode Februari 2013. Sebanyak 228 calon peserta diantaranya berasal dari program pendidikan dokter spesialis dan dari sejumlah ini 41 orang calon berasal dari Program Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kesehatan Anak. Pendaftaran calon peserta mulai dibuka 15 Oktober sampai dengan 2 Nopember 2012 secara on-line melalui website UNUD. Setelah dilakukan seleksi kelengkapan administrasi dan dinyatakan lengkap barulah calon dapat mengikuti seleksi selanjutnya.

 

Tes seleksi calon meliputi:
1. Tes kesehatan yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Pelaksana PPDS-1 antara lain tes kesehatan fisik, tes kesehatan mata, tes kesehatan THT, dan tes MPPI yang dilakukan mulai tanggal 19 – 23 Nopember 2012 di RSUP Sanglah Denpasar.

2. Tes yang dilakukan oleh Program Studi Ilmu Kesehatan Anak meliputi wawancara calon residen, tes jurnal dan tes tulis. Dalam wawancara ini tim penguji yang terdiri dari 3 orang akan menilai seberapa jauh kemampuan calon residen dalam mengikuti atau menyelesaiakan program studi IKA serta berbagai factor yang diperkirakan ikut mempengaruhi keberhasilan tersebut, sedangkan tes junal untuk melihat kemampuan calon residen mengapresiasi sebuah jurnal dan tes tulis untuk melihat kompetensi dasar seorang calon di bidang Ilmu Kesehatan Anak. Tes di Program Studi ini dilaksanakan mulai tanggal 23 – 26 Nopember 2012.

IMG_4423

DSC01954

DSC01981

3. Tes yang terakhir dilaksanakan oleh Pasca Sarjana UNUD tanggal 1 Desember 2012 berupa Tes TPA dan Test Toefl. Tahap berikutnya dalam penerimaan calon residen diadakan rapat-rapat yaitu: di TKP PPDS-1, di Program Studi IKA dan terakhir rapat di Pasca Sarjana. Tahap terakhir adalah pengumuman yang dilakukan oleh Pasca Sajana UNUD melalui website UNUD. Selamat kepada calon residen yang berhasil diterima dalam tes seleksi ini dan selamat bergabung di Program Studi Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD. (PS IKA)

IMG-20121201-00027

IMG_1973

Alergi pada anak-anak, apakah bisa dicegah?

Ilustrasi

Ilustrasi

Bapak Made sedang mengendarai sepeda motornya bersama anaknya Made, 6 tahun yang sedang mengalami sesak napas yang sudah dideritanya sejak 5 tahun terakhir. Pagi itu, bapak Made bingung mau dibawa kemana lagi anaknya itu, sebab sejak 5 tahun ini sudah belasan dokter didatangi. Dalam kebingungan, hatinya mengatakan dia harus ke poliklinik Wings Internasional rumah sakit Sanglah, disana dia dipertemukan dengan seorang konsultan dokter anak. Dalam pertemuannya bapak Made menceritakan bagaimana sejak 5 tahun ini anaknya hampir setiap bulan sesak dan setiap sesak berlangsung > 2 minggu. Selain itu, sewaktu bayi Made pernah menderita kemerahan pada kulit pipinya, dan pada usia 4 tahunan dia menderita eksim yang cukup parah.

Bapak Made telah mencoba berbagai cara dan obat yang dianjurkan oleh dokter, mulai dari obat minum dan uap, bahkan bapak Made sampai berhenti bekerja agar dapat mengelola rumahnya sesuai anjuran dokter. Saking kuatnya keinginan untuk bebas dari sakit asmanya, sejak setengah tahun terakhir ini bapak dan anak sampai tidak tidur untuk memenuhi jadwal minum obat namun sesak Made tidak berkurang. Itu adalah sekelumit gambaran bagaimana anak dengan asma bisa memberi dampak, bukan saja pada si anak tapi juga pada keluarga. Tentu diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk pengobatannya, belum lagi si anak kehilangan kesempatan untuk bermain dan harus sering-sering absen di sekolah.

Apakah yang dimaksud dengan asma?
Menurut Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) 2004, asma adalah mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik, cenderung pada malam/dini hari, musiman, setelah aktivitas fisik, serta terdapat riwayat asma atau atopi lain pada pasien dan/atau keluarganya.

Apakah yang dimaksud dengan eksim?
Dermatitis atopik atau yang biasa juga disebut eksim ialah penyakit kulit yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak, ditandai dengan keradangan pada kulit dan didasari oleh faktor keturunan dan lingkungan. Penyakit ini bersifat kronis dan kambuh-kambuhan dengan gejala pada kulit berupa kemerahan, bentol-bentol, gelembung yang berisi cairan, krusta, skuama yang disertai rasa gatal yang hebat. Eksim biasanya muncul rata-rata pada usia 3 bulan, dapat menyembuh dengan bertambahnya usia, tetapi dapat pula menetap bahkan meluas dan memberat sampai usia dewasa.

Anak dengan eksim terutama yang moderat dan berat akan berlanjut dengan asma dan/atau rinitis alergika di kemudian hari, dan semuanya ini memberikan dugaan bahwa dasar eksim adalah suatu penyakit atopi. Atopi merupakan kecenderungan seseorang untuk memproduksi suatu antibodi Imunoglobulin E (IgE) yang berperan dalam alergi dan bersifat turunan, sedangkan alergi sendiri adalah reaksi abnormal tubuh seseorang terhadap bahan-bahan yang tidak berbahaya, dimana orang normalnya tidak bereaksi terhadap bahan tersebut. Pemakaian dua istilah atopi dan alergi tersebut sering digunakan bersamaan dalam penatalaksanaan pasien sehari-hari.

Mengapa membahas asma menjadi penting?
Masalah alergi secara global sangat besar. Tahukah anda, adanya peningkatan pasti proporsi penduduk dunia yang menderita penyakit alergi, akan menimbulkan wabah atau epidemi penyakit alergi yang mendunia. Prevalensi asma meningkat 50% dalam 10 tahun terakhir ini di beberapa negara berbeda. Peningkatan serupa juga didapatkan pada penyakit-penyakit atopi yang lainnya. Sehingga perlu ditingkatkan pengenalan dan diagnosis penyakit atopi pada anak.

Data Badan Alergi Dunia {World Allergy Organization (WAO)} tahun 2006 menyatakan terdapat sebanyak 22% penderita alergi di seluruh dunia. Sementara di poliklinik anak Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar terdapat peningkatan angka kunjungan asma pada anak sejak tahun 2000, yang mencapai jumlah kunjungan 145 (1,7% dari keseluruhan kunjungan). Pada tahun-tahun berikutnya, kunjungan mencapai 358 (1,9% dari keseluruhan kunjungan) pada tahun 2001, 687 (2,3% dari keseluruhan kunjungan) pada tahun 2002, 1187 (3,9% dari keseluruhan kunjungan) pada tahun 2003. Peningkatan kunjungan sebanyak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Apakah penyakit alergi berbahaya?
Penyakit alergi memiliki spektrum penyakit sangat luas dari gejala yang ringan hingga yang dapat mengakibatkan kematian. Gangguan batuk, dan sesak napas pada asma ataupun hidung tersumbat pada rhinitis alergi dapat membuat penderita mengalami kurang tidur sehingga aktivitas sehari-harinya terganggu.

Faktor-faktor apa yang berperan pada penyakit alergi?
Faktor keluarga sangat berperan, jika kedua orangtua tidak memiliki riwayat alergi maka anak berisiko terkena alergi sebesar 5-15%. Jika satu orang saudara sekandung terkena alergi maka anak berisiko terkena alergi sebesar 25-30%. Jika salah satu orangtua memiliki riwayat alergi maka anak berisiko terkena alergi sebesar 40%. Jika kedua orangtua memiliki riwayat alergi maka anak berisiko terkena alergi sebesar 40-60%. Bila kedua orangtua memiliki manifestasi yang sama maka risiko terkena alergi meningkat 60-80%. Selain faktor keluarga, riwayat persalinan dengan bedah caesar juga merupakan faktor risiko terjadinya penyakit alergi. Saat proses persalinan, bayi yang lahir secara bedah caesar tidak terpapar flora normal (kuman baik yang memang ada pada vagina ibu). Kurangnya paparan terhadap mikroba ini dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit alergi.

Bila kita melihat riwayat sakit Made di awal kisah ini, maka terdapat eksim yang mendahului asma. Adanya eksim seringkali merupakan penanda munculnya asma di kemudian hari, bahkan juga rinitis alergi. Munculnya eksim kemudian menjadi asma dan rinitis alergi pada satu orang individu dinamakan dengan allergic march. Allergic march adalah kumpulan kelainan alergi yang umumnya dimulai pada masa awal kanak-kanak dimulai dari dermatitis atopik atau eksim, alergi makanan, rinitis alergika, dan asma. Alergi makanan dan dermatitis atopik biasanya muncul pertama kali, bukan saat lahir, namun pada usia 3 bulan sampai 12 bulan pertama kehidupan, kemudian mencapai puncaknya pada usia 2 tahun (gambar.1).

Alergi makanan dan dermatitis atopik mulai menurun kejadiannya pada usia 4 dan 7 tahun. Berbeda dengan alergi makanan dan dermatitis atopik, rinitis alergika dan asma muncul lebih lambat, kejadiannya meningkat pada usia sekolah. Penyakit alergi pada saluran napas (rinitis alergika dan asma) meningkat pada usia 7 tahun. Prevalensi asma mulai menurun selama usia sekolah, sedangkan rinitis alergika tetap meningkat hingga usia perguruan tinggi. Anak-anak yang menderita alergi makanan dan dermatitis atopik umumnya berlanjut menderita penyakit alergi pada saluran napas.

Gambar 1. Munculnya penyakit alergi dapat diramalkan

Gambar 1. Munculnya penyakit alergi dapat diramalkan

Selain yang disebutkan di atas, alergi makanan dan dermatitis atopik mendahului dan dapat meramalkan perkembangan rinitis alergika dan asma. Eksim dan alergi makanan tertentu (susu, kedelai, dan telur) muncul atau berkembang pada usia pra sekolah. Sementara rinitis alergi dan alergi makanan lain (kacang-kacangan, makanan laut) menetap hingga usia dewasa, begitupun asma yang terkait alergi. Derajat keparahan penyakit atopi dapat meramalkan lama terjadinya dan progresifitasnya.

Bagaimana bisa terjadi asma?
Pada anak yang punya bakat alergi, paparan lingkungan yang berlangsung terus-menerus dapat mengawali keradangan dan kerusakan yang berkepanjangan pada saluran napas serta perbaikan yang menyimpang pada jaringan yang rusak. Paparan lingkungan yang termasuk diantaranya ialah susu sapi, debu rumah, jamur, bulu binatang, rokok, Jika proses yang salah ini dimulai pada awal masa kanak-kanak dan berlanjut seumur hidup.

Apa yang dapat dilakukan pada anak dengan asma?
Perlu penanganan multidisiplin pada anak dengan asma. Bila sedang dalam serangan asma, anak dapat ditangani oleh dokter paru, dokter alergi, atau dokter anak secara umum. Karena asma adalah penyakit peradangan kronis, maka keradangan harus dikontrol agar tidak kumat. Pencegahan agar tidak kumat biasanya direncanakan oleh dokter paru atau dokter alergi. Untuk menghindari allergic march, pencegahan harus dilakukan jangka panjang oleh dokter alergi. Bila anak anda memiliki risiko alergi dari anda ataupun pasangan anda maka pencegahan harus sudah dilakukan sejak dalam masa kandungan.

Untuk ini, harus dilakukan deteksi dini alergi dalam kehamilan. Pencegahan sekunder ditujukan untuk mencegah terjadinya proses paru kronis pada anak yang memiliki risiko. Misalnya, terapi imun dengan alergen serbuk sari pada anak dengan rinitis alergika. Pencegahan primer untuk membentuk dan mengoptimalkan perkembangan sistem imun sejak dini serta menghindarkan risiko lainnya. Misalnya pemberian suplementasi laktobasilus atau antioksidan pada awal atau sebelum kelahiran, mengurangi paparan terhadap alergen debu rumah dan alergen dalam ruangan lainnya, serta mengurangi paparan pada makanan yang alergenik.

Sehingga dapat disimpulkan, kenali penyakit alergi sejak dini, sebab sekali kena alergi, risiko sakit bisa seumur hidup. Untuk konsultasi lebih lanjut anda bisa datang ke Poliklinik Alergi Imunologi Anak di RSUP Sanglah Denpasar setiap hari Jumat dan Sabtu dari pukul 08-00 hingga 13-00.

Penulis
dr. A A Tri Yuliantini, dr Ketut Dewi Kumara Wati, Sp.A (K)
d/a: Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUP Sanglah

KERJA SOSIAL XIII ILMU KESEHATAN ANAK

Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah melaksanakan Kerja Sosial yang diikuti oleh seluruh staf maupun residen dalam rangka menyambut ulang tahun Bagian Ilmu Kesehatan Anak dan ulang tahun RSUP Sanglah Denpasar.

IMG_9675

Minggu, 9 Desember 2012, Bagian/ SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/ RSUP Sanglah kembali melaksanakan Kerja Sosial ke 13 di desa Bangbang kecamatan Tembuku Kabupaten Bangli. Kerja Sosial yang dilaksanakan oleh Bagian Ilmu Kesehatan Anak merupakan kegiatan yang secara rutin dilakukan setiap tahun dalam rangka menyambut ulang tahun Bagian Ilmu Kesehatan Anak sekaligus ulang tahun RSUP Sanglah Denpasar. Dalam Kerja Sosial kali ini bertindak sebagai ketua panitia Dr. I Made Arimbawa, SpAK yang dibantu oleh beberapa Residen Ilmu Kesehatan Anak (IKA).

IMG_9433


IMG_9439 IMG_9455

Desa Bangbang, merupakan salah satu desa yang terletak di kabupaten Bangli yang berjarak 50 km dari Denpasar. Desa Bangbang mempunyai penduduk 4.823 orang, 2.312 orang diantaranya laki-laki dan 2.511 perempuan. Jumlah bayi tecatat 43orang, balita, 243 orang sedangkan jumlah anak-anak, 352 orang. Di desa Bangbang sendiri telah terdapat PUSKESMAS yang sudah berfungsi secara optimal dalam pelayanan kesehatan, sedangkan penyakit infeksi masih merupakan penyakit terbanyak yang ditemui antara lain infeksi saluran napas. diare, infeksi kulit dan lain-lain.

Acara Kerja Sosial ke 13 ini diikuti Kepala Bagian IKA, seluruh staf dan seluruh residen IKA. Acara dimulai jam 7.30 yang diawali dengan laporan ketua panitia dan dilanjutkan dengan pembukaan oleh Kepala Dinas Kesehatan Tk II Bangli. Adapun kegiatan Kerja Sosial ini meliputi: 1. Penyuluhan Kesehatan kepada masyarakat yang diberikan oleh Dr. Dian Savitri Irawan, 2. Penyuluhan mengenai HIV-AIDS kepada remaja yang disampaikan oleh Dr. Immanuel Yulius Malino, 3. Lomba Balita Sehat diikuti oleh 52 orang balita dan 4. Pelayanan/ pengobatan untuk seluruh masyarakat yang kesehatannya terganggu yang dilakukan oleh para staf senior dan residen.


IMG_4953 IMG_4956 IMG_9666

IMG_0009 IMG_0058 IMG_0076

IMG_9514 IMG_9593 IMG_9596

Tercatat sebanyak 400 orang anak yang mendapat pelayanan-pengobatan dalam Kerja Sosial kali ini. Seluruh kegiatan yang dilakukan mendapat respon yang baik dari masyarakat desa Bangbang Pada jam 13.00 WITA Kerja Sosial ke 13 IKA di desa Bangbang berakhir dan setelah makan siang bersama, semua panitia bersiap-siap kembali ke Denpasar. Semoga kegiatan Kerja Sosial yang dilakukan bermanfaat bagi masyarakat banyak karena inilah salah satu bentuk pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah Denpasar. Segala sesuatu yang dilakukan dengan niat baik tentulah mendapat restu IDA SANG HYANG WIDHI WASA/TUHAN YANG MAHA ESA (Bag.IKA)


IMG_4905 IMG_4991 IMG_5020

IMG_9436 IMG_9510 IMG_9520

IMG_9539 IMG_9579