A nice post

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem.

Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt. Cras dapibus. Vivamus elementum semper nisi. Aenean vulputate eleifend tellus. Aenean leo ligula, porttitor eu, consequat vitae, eleifend ac, enim.

Read more

HENONCH- SCHONLEIN PURPURA

Henoch-Sconlein Purpura (HSP) merupakan salah satu bentuk vaskulitis yang melibatkan pembuluh darah kecil (kapiler) yang ditandai dengan perdarahan kulit (purpura), pembengkakan pada sendi, nyeri perut dan kelainan pada ginjal. Kelainan ini pertama kalinya dikemukakan oleh Johan Schonlein pada tahun 1837 berupa adanya kelinan pada kulit dan nyeri pada sendi, sedangkan Edward Henoch menggambarkan adanya kelaian pada gastro-intestinal dan manifestasi ginjal pada tahun 1868 sehingga untuk mengenang nama beliau ini penyakitnya dinamakan Henoch-Schonlein Purpura.

EPIDEMIOLOGI
Henoch-Schonlein Purpura lebih sering terjadi pada anak-anak dibandingkan dewasa. Angka kejadian HSP 9-18/100.000 populasi. Sebagian besar kasus terjadi pada umur 2-8 tahun. Kejadian pada laki-laki 2 kali lebih banyak dari pada perempuan
ETIOLOGI
Penyebab HSP sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, diduga berhubungan dengan infeksi saluran napas baik karena bakteri ataupun virus. Hal-hal lainnya yang diduga berhungan dengan kejadian HSP antara lain keganasan, obat-obatan dan makanan. Dikemukan juga
factor genetic mempunyai peranan.

PATOGENESIS
Patogenesis HSP adalah terjadinya vaskulitis leukositoklastik pada pembuluh darah kecil yang ditandai dengan endapan kompleks imum yang mengandung IgA pada organ yang terlibat. Adapun gejala yang timbul adalah akibat dari kerusakan pembuluh darah kecil pada organ yang terlibat utamanya pada kulit, sendi, gastro-intestinal dan ginjal.

GAMBARAN KLINIK
Onset HSP pada umumnya akut dan tiba-tiba. Gambaran klinik yang utama tediri dari 4 organ yang terlibat. Pertama pada kulit dimana terjadi perdarahan kulit yang agak meninggi kalau diraba (palpable purpura) terjadi pada 95-100 % kasus yang terutama terjadi pada bagian-bagian tubuh yang tergantung atau yang mengalami tekanan seperti kaki bagian bawah, pantat,tubuh dan tangan. Perdarahan ini berupa bercak-bercak kemerahan terang atau merah gelap atau kebiruan yang dapat menyatu. Perdaraham ini pada umumnya akan menghilang dalam beberapa hari sampai beberapa bulan. Kurang dari 10 % kasus dapat berulang dan mungkin menetap beberapa tahun. Perdarahan ini dapat disertai pembengkakan (udem). Organ ke 2 yang terlibat adalah gastro-intestinal. Gejala yang muncul pada organ ini adalah sakit perut hebat (kolik abdomen), mual dan muntah sampai terjadi perdarahan saluran cerna (intususepsi) yang biasanya muncul 1 minggu setelah munculnya perdarahan kulit. Sendi merupakan organ ke 3 yang terlibat. Anak tiba-tiba tidak bisa jalan, sendi sangat nyeri (arthralgia) atau sampai terjadi pembengkakan sendi, nyeri, kemerahan dan kalau diraba terasa panas (athritis). Sendi yang terserang lebih banyak sendi lutut atau pergelangan kaki. Ginjal merupakan organ yang ke 4 yang terlibat. Lebih cepat berkembang pada dewasa. Gejalanya dapat berupa hematuri (urin berwarna kemerahan), proteinuri. Apabila gejalanya hanya hematuri mikroskopik kemungkinan kelainan ginjalnya glomerulonefritis ringan namun apabila terjadi glomerulonefritis progresif cepat akan menyebabkan hipertensi kronis bahkan bisa masuk kedalam end-stage kidney disease.

DIAGNOSIS
Pada umumnya HSP sudah dapat ditegakkan dengan klinis. Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik untuk menegakkan diagnosis. Pada darah lengkap mungkin ditemukan anemia kalau ada perdarahan akut atau kronis pada gastro-intestinal, sedikit peningkatan leukosit, trombosit atau laju endap darah. Kadar komplemen normal. Kadar IgA dalam darah meningkat pada 50 % kasus. Biopsi kulit dapat membantu diagnosis dengan ditemukan endapan IgA dan komplemen dan vaskulitis leukositoklastik. Apabila ginjal terlibat, pemeriksaan uri akan ditemukan adanya proteinuri, pada sedimen ditemukan sel darah merah (hematuri) disertai cast eritrosit.

TATA LAKSANA
HSP pada umumnya sembuh sendiri dalam 1-6 minggu. Pengobatan yang diberikan bersifat simtomatik untuk mengurangi gejala. Untuk mengurangi rasa nyeri dapat diberikan analgesic seperti parasetamol, sedangkan untuk mengatasi nyeri sendi dapat digunakan obat-obatan anti implamasi non steroid namun harus berhati-hati karena dapat meningkatkan terjadinya perdarahan gastro-intestinal. Untuk mengatasi udem pada tungkai dapat dengan meninggikan kaki. HSP dengan manifestasi berat seperti gejala pada ginjal, nyeri perut yang hebat perdarahan saluran cerna, dapat digunakan steroid atau imunosupresif lain. Prednison diberikan dengan dosis 1-2 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis selama 5-7 hari. Prednison tidak dapat mengurangi perjalanan penyakit atau mencegah terjadinya kekambuhan.

PROGNOSIS
Pada umumnya HSP mempunyai prognosis yang baik. Delapan puluh persen pasien akan sembuh dalam beberapa minggu. Lebih kurang 10-20 % pasien mengalami kekambuhan dan kurang dari 5 % pasien akan menjadi HSP kronis.

EVALUASI NASIONAL 7 MEI 2012

(Dari kiri ke kanan) Dr. I Gde Doddy Kurnia Indrawan, dr. Romy Windiyanto, Dr. Veny Kartika Yanti

Setelah melewati tahapan-tahapan dalam mengikuti pendidikan di IPDSA FK UNUD dan telah menyelesaikan tugas-tugas baik itu tugas akademik maupun professional, tiga peserta didik Program Studi Ilmu Kesehatan Anak yaitu: Dr. I Gde Doddy Kurnia Indrawan, Dr. Ni Putu Veny Kartika Yantie dan Dr. Romy Windiyanto, tiba saatnya untuk dilakukan evaluasi akhir berupa evaluasi nasional.

Pada hari Senin tanggal 7 Mei 2012, IPDSA FK UNUD melaksanakan evaluasi nasional terhadap ke 3 peserta didik ini. Tim penguji terdiri dari 5 orang, 3 orang dari Bagian IKA FK UNUD dan 2 orang berasal dari IPDSA lain yang ditunjuk oleh Kolegium Ilmu Kesehatan Anak sebagai external examiner dengan susunan sebagai berikut: 1. Dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpAK (ketua tim), 2. Dr. Ketut Suarta, SpAK, 3. Dr. Gusti Ayu Putu Nilawati, SpAK,  4. Dr. Abdul Latif, SpAK (FK UI), 5. Dr. Sumadiono, SpAK (FK UGM). Sebagai notulen Dr. Ayu Setyorini Mestika Mayangsari, MSc, SpA, dan yang bertugas menyiapkan pasien Dr. I Wayan Gustawan, MSc, SpA.

Acara evaluasi nasional ini diawali dengan sambutan dari Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Anak yang dilanjutkan dengan penyampaian tata cara EN oleh KPS. Dalam pelaksanaan EN, masing-masing kandidat diuji 2 kasus, 1 kaus panjang dan 1 kasus pendek. Kasus panjang diberikan 1 minggu sebelumnya dan dipresentasikan dalam waktu 20 menit selanjutnya diikuti dengan diskusi dimana masing-masing penguji mempunyai kesempatan untuk bertanya selama 10 menit.

Oresentasi kasus panjang dari ketiga kandidat

Kasus pendek diberikan saat ujian yang diperiksa langsung oleh kandidat  dan disaksikan semua penguji selama 10 menit, selanjutnya kasus ini dipresentasikan dan dilanjutkan dengan diskusi. Dr. I Gde Doddy Kurnia Indrawan sebagai kandidat I mempresentasikan kasus panjang “ Kolestasis Intrahepatik ec. Infeksi Saluran Kemih + Hernia Umbilikalis “ sedangkan Dr. Ni Putu Veny  Yantie dengan kasus panjang “ Meningitis Bakteri + Abses Otak “  dan Dr. Romy Windiyanto dengan kasus “ Hemophilia B derajat berat + Hamarthrosis Genu + Gisi baik “. Untuk kasus pendek masing-masing: Bronkhiolitis, Ikterus Neonatorum dan Demam Berdarah Dengue derajat II.

Kasus pendek yang langsung dinilai oleh tim penguji

Setelah selesai semua tanya jawab, tim penguji rapat membicarakan hasil-hasil ujian, selanjutnya diikuti dengan yudisium yang dihadiri oleh para supervisor dan seluruh residen. Pada yudisium yang disampaikan oleh ketua tim penguji, semuanya dinyatakan lulus.

Yudisium yang disampaikan oleh ketua tim penguji

Selamat kepada Dr. I Gde Doddy Kurnia Indrawan, Dr. Ni Putu Veny Kartika Yantie dan Dr. Romy Windiyanto sebagai dokter spesialis anak yang baru semoga melalui tangan-tangan anda semakin banyak anak-anak di Indonesia memperoleh pelayanan dokter anak sehingga meningkatkan derajat kesehatan anak Indonesia dan menurunkan angka kematian bayi yang masih tinggi di Indonesia. Sekali lagi S E L A M A T

Foto ketiga kandidat EN bersama tim penguji dan supervisor IKA FK Unud

Foto ketiga kandidat EN bersama Residen IKA FK Unud

Acara santap siang bersama setelah Evaluasi Nasional